RAMADAN dan Idul Fitri merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh hampir semua keluarga. Karena pada momen tersebut kehangatan keluarga akan terbagun kembali setelah setahun berlalu. Kesempatan untuk berkumpul saat berbuka puasa, sahur, silaturahmi merupakan momen yang langka di tengah keluarga sibuk pada zaman ini.
Ramadan juga menjadi salah satu momentum bagi kita untuk melakukan muhasabah dan kembali memperkuat peran keluarga. Agar penuh cinta, kebaikan dan keakraban dengan anggota keluarga lainya. Mengingat, keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak untuk belajar tentang kehidupan. Sekaligus yang bertanggung jawab atas terbentuknya perilaku dan karakter anak.
Ada empat hal yang mesti kita perhatikan dan perkuat dalam keluarga. Pertama, memperkuat iman kepada Allah. Iman adalah pondasi dasar dan utama dalam agama. Jika diumpamakan keimanan yang baik dan kokoh akan membuat daya imun yang kuat bagi manusia dalam menghadapi situasi apapun. Kedua, menanamkan adab. Seperti menghormati orang yang lebih tua, berkata lemah lembut, tolong menolong dan lainnya. Ini akan sangat berguna bagi anggota keluarga kita dalam pergaulan yang lebih luas.
Ketiga, sederhana dalam hidup. Dalam kalimat sederhana diartikan sebagai kesahajaan atau tidak berlebih-lebihan. Penanaman kesederhanaan harus dilakukan sejak dini terlebih pada momen bulan Ramadan. Kesederhanaan merupakan pondasi untuk membangun jiwa syukur dalam setiap pribadi manusia. Keempat, membangun kenyaman secara psikologis. Yakni, suasana rumah yang nyaman, interaksi yang harmonis, dan sikap saling menghargai antar anggota keluarga. Hal ini akan mempengaruhi iklim psikologis yang bagus dirumah yang membuat anggota keluarga merasa betah bersama keluarga.
”Jika Allah menghendaki keluarga menjadi keluarga yang baik maka Allah memberikan lima perkara: (1) memiliki kecenderungan kepada agama, (2) yang muda menghormati yang tua, (3) lemah lembut dalam pergaulan, (4) sederhana dalam hidup, dan (5) mampu intropeksi dan dapat bertaubat dari kesalahan-kesalahannya. Jika Allah tidak menghendaki demikian, maka mereka dibiarkan tanpa hal-hal tersebut.” (HR. Dailami)
Jika menilik salah satu faktor yang memicu kenakalan remaja ataupun lainnya karena disebabkan adanya disfungsi keluarga. Terutama kurangnya kasih sayang, pendidikan agama, moral, dan sosial dari orang tua kepada anak. Padahal keluarga merupakan faktor utama pembentukan karakter anak.
Di bulan inilah momentum bagi keluarga untuk melakukan muhasabah, kembali menghangatkan hubungan antar anggota keluarga dan menempa diri dengan berbagai momen serta nilai yang bisa diambil di dalamnya. Jika setiap hari antar anggota keluarga jarang berkomunikasi dan duduk bareng di meja makan, maka pada momen berbuka dan sahur, hal tersebut bisa dilakukan untuk saling bercakap tentang kegiatan seharian.
Ramadan akan menempa seseorang dalam aspek fisik, sosial, intelektual dan spiritual. Aspek itu saling terkait satu sama lain. Maka ketika empat aspek tersebut tertempa dengan baik, akan melahirkan pribadi takwa. Karena Ramadan menghadirkan kualitas ibadah yang meningkat pada setiap orang yang menjalankan. Ibadah yang berkualitas akan menghadirkan Allah pada setiap sikap, kata, ucapan dan perbuatan.
Tempaan Ramadan akan kembali mengokohkan keluarga sehingga akan mampu melahirkan generasi yang tangguh dalam semua aspek kehidupan. Keluarga yang berdiri diatas akar tauhid yang kuat, batang pohon syariah yang tegak dan tandan buah akhlak yang baik akan terwujud manakala Ramadan mampu dijadikan sarana pendidikan untuk meraih takwa. Semoga keluarga kita mampu mengambil pelajaran pada Ramadan tahun ini dan diizinkan Allah untuk berjumpa lagi dengan Ramadan berikutnya. Wallahu A’lam. (*)
*Fungsional Widyaprada Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto
Editor : Fendy Hermansyah