Oleh: Vikar Nanda Prasetyo*
PERISTIWA kenaikan Tuhan Yesus Kristus adalah peristiwa yang penting bagi umat Kristen di seluruh dunia. Karena melalui peristiwa ini, ke-Allah-an Yesus dapat dilihat oleh banyak orang. Dan juga berarti tugas Allah sebagai manusia di dunia telah selesai untuk menebus dosa umat manusia.
Sesuatu hal yang menarik bahwa Allah sangat memahami apa yang dibutuhkan manusia. Sabda-Nya yang indah, Ia turunkan ke dunia dalam wujud manusia, yang kemudian rela mengorbankan diri-Nya di kayu salib. Manusia penyelamat manusia ini bukanlah manusia yang gagah perkasa seperti super hero yang sering kita lihat dalam sebuah film, yang mampu mengalahkan para penjahat dengan baju besi, peralatan canggih seperti Iron-Man. Atau, badan yang kebal terhadap tembakan peluru, dan memiliki kekuatan terbang seperti Superman.
Tetapi manusia ini adalah manusia yang menderita dalam sebuah kesakitan ketika cambuk menyobek kulit-Nya, manusia yang sangat sedih ketika ditinggalkan, dan manusia yang pasrah ketika kematian datang kepada-Nya, hal ini juga menandakan bahwa Yesus adalah 100 persen manusia (Dia lahir dari rahim seorang ibu dan Dia hidup seperti manusia, Dia bisa lapar, Dia bisa haus). Tatapi juga Yesus adalah 100 persen Allah karena kasih khusus yang Ia ungkapkan dalam pengorbanan-Nya di kayu salib, kebangkitan, dan naik ke surga.
Jadi bagaimana seseorang dapat memiliki identitas Tuhan dan manusia pada saat yang bersamaan? Alasan tidak bisa dimengerti! Memang, ini adalah sebuah misteri iman Tuhan dan tidak selalu dapat dipahami dan ditafsirkan dengan akal manusia.
Mengapa? Akal manusia masih terbatas dalam memahami pekerjaan Tuhan di dunia ini, terutama dalam kisah Mesias, Yesus Kristus. Tidak bisa dipahami oleh pemikiran manusia bukan berarti tidak masuk akal, tetapi misteri iman ini melampaui akal manusia.
Inilah yang dialami oleh Sang Mesias yang diutus Allah, sama seperti penderitaan-penderitaan yang dialami oleh seluruh manusia yang Allah ciptakan. Penderitaan tersebut tak selalu bisa dicegah, tetapi melalui cerita Yesus Kristus, Allah meyakinkan manusia bahwa penderitaan itu tak akan mengalahkan kuasa-Nya.
Selalu ada kebangkitan di setiap pengalaman penderitaan ketika manusia percaya pada apa yang dikerjakan dan dikaryakan Allah dalam kehidupannya. Akan selalu ada kebahagiaan yang Allah hadirkan untuk melepaskan kita dari setiap kesedihan, kepedihan, ketakutan, kesakitan, dan keputusasaan.
Perjuangan Yesus dalam pengorbanan-Nya di kayu salib merupakan gambaran perjuangan manusia dalam menjalani kehidupan. Penderitaan adalah sesuatu hal yang paradoksal yaitu tidak kita inginkan tetapi tidak bisa kita hindari. Ketika tak dapat dihindarkan, melalui peristiwa kenaikan Yesus ke surga, Dia menjanjikan Roh Penghibur yang akan senantiasa mengajar dan mengingatkan apa yang telah diajarkan oleh Yesus Kritus. Sehingga manusia yang percaya akan senantiasa semangat untuk menghadapi setiap peristiwa kehidupan yang terjadi. Tetapi pastilah Allah menyiapkan kebangkitan yang melegakan dan memampukan kita untuk menjadi saluran pewartaan kabar baik bagi sesama kita.
Yesus Kristus bangkit dari kematian karena Ia harus mewartakan kabar baik, berita keselamatan, pengharapan dan kesukacitaan, kepada para murid yang kemudian Ia utus dan perlengkapi sebagai saksi-Nya. Kita pun pasti akan mengalami kebangkitan dalam bentuk dan porsi pewartaan kabar baik yang sesuai dengan karya Allah. (*)
*calon pendeta Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojokerto
Editor : Fendy Hermansyah