EKA-sapaan akrab Hj Eka Septya Juniarti mengatakan, kalangan seniman sejak pandemi bermula hingga kini praktis tak memiliki kesempatan berekspresi. Menyusul, pelarangan aktivitas kesenian secara terbuka apalagi mengundang massa.
Sekretaris Komisi IV bidang pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan DPRD Kabupaten Mojokerto ini, menilai pelaku dunia seni dan budaya perlu segera mendapat kepastian. Apalagi, sekarang ini, pandemi telah memasuki tahapan new normal. Yang mana, berarti aktivitas masyarakat dapat berlangsung dengan standar protokol kesehatan yang berlaku. ’’Kepastian para seniman agar segera diberi kesempatan berekspresi ini penting,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, kemarin.
Politisi asal Dusun Banong, Desa Gebangsari, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto ini menuturkan, meski memasuki masa new normal, kegiatan pentas kesenian nyatanya masih terbatasi. Akibatnya, seniman pertunjukan seperti kesenian wayang, ludruk, hingga orkes electone kesulitan berpentas. ’’Sudah dua tahun mereka vakum. Seharusnya, beri panggung agar bisa berekspresi di dunia seni Kabupaten Mojokerto,’’ tutur dia.
Bendahara Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Mojokerto ini mengaku, kondisi hal itu sudah pihaknya pertanyakan kepada instansi terkait. Yakni, Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Mojokerto. Pihaknya mempertanyakan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dibebankan kepada Disbudporapar. Juga, mendorong Disbudporapar segera membuat formula yang melonggarkan seniman berkesenian.
’’Di kabupaten tetangga, Kabupaten Jombang 6 bulan yang lalu sudah diperbolehkan dengan batasan-batasan. Kenapa Mojokerto belum diperbolehkan? Setelah ini bulan Syawal yang artinya banyak orang punya hajat. Jika para seniman ini diberikan ruang pastinya akan menaikkan pendapatan para seniman yang selama 2,5 tahun sudah vakum,’’ beber Eka. (fen)
Editor : Fendy Hermansyah