MASJ
Nilai toleransi di antaranya terletak pada lahan yang dijadikan sebagai tempat pembangunan masjid di tahun 1928 silam. Petak tanah seluas kurang lebih 20 x 60 meter tersebut merupakan hibah dari keluarga keturunan Tionghoa di masa prakemerdekaan.
Dengan lahan yang luas, masjid yang dulu dikenal dengan nama Masjid Onderan Koetoredjo ini menjadi salah satu tempat ibadah umat muslim yang terbesar di tingkat kecamatan.
Meski telah mengalami beberapa kali sentuhan renovasi, masjid yang hampir berusia satu abad ini masih menjadi simbol kerukunan antarumat beragama.
Cerminan pluralisme juga terdapat pada mimbar Masjid Baitul Muttaqin. Tempat untuk khotbah tersebut juga merupakan pemberian dari keluarga etnis Tionghoa. Mimbar kayu berhias ukiran ini juga masih dipertahankan hingga sekarang.
Tak sekadar sebagai simbol, Masjid Baitul Muttaqin juga terbuka bagi siapa saja, termasuk umat nonmuslim yang ingin berkunjung. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah