Masjid yang berdiri sejak 1960 ini direnovasi dengan gaya arsitek perpaduan Turki, Arab, dan Jawa.
Masjid yang terletak di tengah perkampungan ini sudah mengalami renovasi yang kedua.
Dengan tujuan agar dapat menampung lebih banyak jamaah dan lebih modern.
’’Renovasi pertama sekitar 1990 dan waktu itu dibongkar total. Renovasi kedua sekitar 2014 dengan mengambil tiga perpaduan masjid di negara yang berbeda,’’ ungkap Hendrik Jamil, ketua takmir Masjid Rahmat.
Arsitek perpaduan Turki, Arab, dan Jawa dipilih melalui musyawarah. Dengan menggabungkan tiga gaya tersebut,saat ini Masjid Rahmat tampak lebih megah.
’’Saya dan pengurus masjid lainnya mencari referensi dari internet kemudian sepakat memilih tiga gaya masjid di negara tersebut,’’ jelas Hendrik.
Gaya Jawa terdapat pada pintu besar yang terbuat dari kayu jati. Selain pintu, terdapat dua menara yang terinspirasi dari masjid di Arab.
Sedangkan, ornamen dengan gaya Turki terletak di dinding masjid.
Selain memadukan gaya arsitektur, masjid tersebut juga menggabungkan dua warna. Yakni antara hijau dan krem.
’’Hijau dipakai karena mempertahankan warna dari awal masjid berdiri. Sedangkan, krem agar terlihat lebih modern dan tidak monoton,’’ sebut pria 44 tahun itu.
Bangunan Masjid Rahmat kurang lebih 266 meter persegi. Masjid tersebut tidak menggunakan pembatas berupa tembok, tetapi hanya menggunakan pembatas shaf dari besi.
’’Agar keindahan yang ada di dalam masjid dapatdi lihat seluruhnya,’’ ucap Hendrik.
Pihaknya juga menambahkan, masjid tersebut merupakan masjid wakaf dari kakak beradik, yakni KH. Usman dan KH. Iskandar.
Awalnya masjid masih berukuran kecil, sehingga tidak bisa menampung jamaah dengan jumlah besar. Kemudian masjid di renovasi menjadi dua lantai.
’’Lantai atas belum jadi 100 persen, insyaallah setelah Hari Raya Idulfitri pengurus masjid membuat proposal untuk penggalian dana,’’ pungkasnya. (Nailul Mufarichah/fen)
Editor : Fendy Hermansyah