Masjid minimalis ini mempunyai konsep yang berbeda dan bakal terus melakukan pengembangan.
Ketua Takmir Masjid Baitul Muhsinin, Muhaimin mengatakan, masjid ini sudah mengalami lima kali pengembangan dari awal berdirinya sekitar 1998.
Masjid dengan konsep modern ini awalnya hanya sebuah musala kecil.
’’Dulu masjid ini bernama musala Al-Ikhlas. Kemudian sekitar 2019 akhir telah diresmikan sebagai masjid,’’ jelasnya.
Perancang desain masjid, Faiz Fajar Al Qurni, juga menjelaskan adanya perubahan tersebut disebabkan oleh membeludaknya jemaah yang hadir.
Sehingga musala di renovasi dengan gaya modern, tanpa mengubah bangunan aslinya. Selain itu masjid ini juga mengalami pelebaran dengan dibangun secara bertingkat.
’’Proses pengembangan masjid masih bertahap hingga saat ini dan juga mengalami pelebaran untuk menambah volume jemaah,’’ ungkapnya.
Desain masjid yang digunakan terinspirasi dari desain masjid kebanyakan. Selain itu, pihaknya juga menggali desain dengan berselancar di internet.
Desain itu disesuaikan dengan kecocokan dan sirkulasi udara yang masuk. Awalnya, bangunan masjid yang lama sirkulasi udaranya kurang memadi sehingga terasa panas. Padahal, jemaah juga sudah banyak.
Faiz mengungkapkan, masjid dua lantai ini menggunakan gaya arsitektur modern dengan arsitektur mimbar yang menggunakan marmer onyx.
Karena pondasi yang berada di bagian imam dulunya miring sehingga desainnya diubah agar posisi imam tidak miring.
’’Penggunaan marmer onyx yang digunakan agar dapat tembus cahaya sehingga bisa terpancar sinar langsung dari matahari,’’ ungkap pria 28 tahun ini.
Faiz juga mengatakan masjid Baitul Muhsinin dibuat berbeda dari kebanyakan masjid.
Karena tempat ibadah ini tanpa menggunakan pilar pondasi di bagian tengah masjid. Itu agar masjid terlihat lebih luas dan dapat menampung banyak jemaah.
Selain itu, ada juga lukisan kaligrafi asmaulhusnah di bagian dalam kubahnya sebagai bentuk harapan agar masjid ini selalu mendapatkan barokah dan langgeng.
’’Awalnya mau saya isi dengan surat yasin, tetapi warga menolak, akhirnya saya ganti dengan kaligrafi asmaulhusna,’’ paparnya. (Novita Ainiyyatuz Zakkiyah/fen)
Editor : Fendy Hermansyah