Masjid di Jalan Majapahit, Desa Watusumpak, Kecamatan Trowulan, punya desain arsitektur yang unik.
Secara umum, masjid yang sudah berdiri sejak tahun 1951 ini memiliki atap berbentuk setengah lingkaran, juga memiliki satu menara setinggi 25 meter. Yang unik pada area tempat wudhu.
Batu andesit diukir sedemikian rupa dijadikan sebagai aliran air wudu.
Bendahara Masjid Baitul Muttaqin, Jumika, 61 tahun Jumika mengungkapkan, tempat wudhu yang dibuat sejak 2010 ini bergaya arsitektur Majapahitan.
Hingga area wudu ini menjadi ciri khas masjid yang didominasi warna krem.
’’Penggunaan batu yang digunakan tempat wudhu ini menggunakan batu patung (andesit) bukan batu kuningan. Karena untuk melestarikan seni yang ada di sekitar sini,’’ ungkap pria asli Jatisumber ini.
Masjid di sebelah barat jalan nasional Mojokerto-Jombang ini letaknya relatif strategis.
Sehingga membuat masjid ini sering disinggahi para musafir untuk beribadah selain warga setempat.
Tempat ibadah dengan luas sekitar 1500 meter persegi ini mampu mencakup kurang lebih 1000 jemaah.
Jumika mengatakan, desain masjid ini memadukan gaya arsitektur Jawa-Eropa. Dari luar terlihat gaya arsitektur klasik.
Salah satunya kotak amal di area depan masjid yang terbuat dari batu andesit. Sedangkan di dalamnya, menunjukkan gaya arsitektur modern.
Sejarahnya, lanjut Jumika, beberapa tahun lalu lokasi masjid ini berada 300 meter dari berdirinya Masjid Baitul Muttaqin saat ini.
Dulunya, lokasi masjid saat ini bekas langgar. Pindahnya lokasi masjid legendaris ini tak lain agar mampu menampung jumlah jemaah yang lebih banyak ketimbang sebelumnya.
’’Dulu sudah terlalu banyak jamaah, akhirnya di pindah ke sini. Kebetulan tanah ini milik keluarga ketua takmir disini, Muhammad Hambali. Kemudian diwaqafkan menjadi masjid,’’ jelasnya. (Firza Aulia Ningrum/fen)
Editor : Fendy Hermansyah