Sanggar Ngudi Rukun didirikan pada tahun 1995 oleh Mbah Mundhir, putra Mbah Ilyas, kiai kharismatik asal Mojokerto. Kemudian dimanfaatkan sebagai masjid oleh Gus Mad, putra kedua dari Mbah Mundhir pada 2014.
Alwan, petugas kebersihan Masjid Ngudi Rukun menjelaskan, sebelum dijadikan masjid, sanggar merupakan tepat berkumpulnya orang-orang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dan, pintunya terbuka bagi siapa saja yang ingin datang ke sanggar tersebut. “Sanggar ini selalu terbuka untuk membahas tentang bekal di akhirat, musyawarah untuk mencari ilmu, dan mencari ridha Allah SWT,” ujarnya.
Kemudian, sekitar 2014, oleh Gus Mad sanggar dengan gaya arsitektur ukiran aksara pegon dan wayan ini dijadikan sebagai masjid.
Salah satu ukiran yang ada di dinding masjid memiliki arti ayo belajar sabar menerima, mengalah, dermawan, bersungguh-sungguh, dan giat.
"Mbah Mundhir memiliki kesabaran yang luar biasa dan ukiran di masjid ini merupakan pesannya selama masih hidup," jelas Alwan.
Alwan juga mengatakan, selama perubahan dari sanggar menjadi masjid ada beberapa kegiatan yang rutin dilakukan.
Kegiatan tersebut bertujuan untuk menyambung silaturahmi sesama umat muslim. Kegiatan selama sebulan yang rutin dilakukan yaitu, khataman Alquran, dibaan, qiraah, dan manaqiban.
Di sebelah timur Masjid Ngudi Rukun terdapat makam keluarga Mbah Mundhir. Tempat persemayaman tersebut biasa diziarahi oleh jamaah.
Makam tersebut terdiri dari orang tua dan saudara Mbah Mundhir. Yakni Mbah Ilyas dan dua istrinya yaitu, Bu Nyai Ma'rifah dan Umi Kulsum.
Kemudian ada empat anaknya, yaitu Mbah Supriatin, Mbah Aliya, Mbah Mundhir dan Mbah Said. Makam tersebut selalu dikunjungi peziarah setiap hari. (Mia Chalimatus Syaidah/ram)
Editor : Fendy Hermansyah