Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Puluran

Fendy Hermansyah • Selasa, 26 April 2022 - 18:55 WIB
TRADISI: Puluran kerap disuguhkan ketika diadakan pengajian di masjid.
TRADISI: Puluran kerap disuguhkan ketika diadakan pengajian di masjid.
SELAIN peribadahan, bulan Ramadan juga tidak lepas dengan pernak-pernik kuliner. Karena dalam beberapa kegiatan keagaamaan, masyarakat secara sukarela menyuguhkan puluran.

Ketua Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto Ayuhanafiq mengungkapkan, puluran merupakan makanan kecil yang diberikan warga di kegiatan sosaial dan keagamaan.

Saat Ramadan, puluran disuguhkan saat malam hari saat kegiatan darusan di masjid atau musala. ”Pada umumnya, puluran berasal dari hasil bumi seperti umbi-umbian, ketela pohon, pisang, kacang, dan hasil panen lainnya,” terangnya.

Kalau pun berupa makanan olahan, bahannya dibuat dari dari bahan pangan yang mudah diperoleh di sekitar. Mengingat, puluran menjadi bagian dari tradisi gotong-royong yang ada di tengah masyarakat. Sehingga pemberiannya bersifat tidak memberatkan.

Meski demikian, puluran hampir selalu ada dalam kegiatan tadarus meski tanpa ada penjadwalan maupun arahan dari pihak mana pun. Sebab, pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebut, kegiatan memberikan makanan itu juga menjadi salah satu bentuk amal di bulan Ramadan.

Hingga saat ini, tradisi mengirimkan puluran masih tetap ada di masyarakat pedesaan maupun perkotaan. Hanya saja, pemberi kudapan kepada para pendarus di masjid atau musala sudah jauh lebih terstruktur. Karena kini telah menerapkan sistem giliran.

Yuhan mengatakan, pemberlakuan jadwal tersebut dipicu untuk pemerataan. Dengan begitu, tidak ada kepala keluarga di sekitar tempat ibadah yang terlewat. di sisi lain, pemberlakuan pemerataan puluran itu mengakibatkan pemberian sudah tidak murni sukarela seperti dulu. ”Karena mungkin ada yang merasa malu kalau tidak memberikan puluran yang sudah terjadwal,” bebernya.

Dikatakannya, puluran dapat dinikmati siapa pun. Namun dari sisi nilai moral, puluran lazim dinikmati oleh pendarus yang selesai mendapat giliran membaca Alquran. Di kalangan anak-anak, puluran juga mampu menjadi motivasi untuk berlomba-lomba membaca kitab suci lebih awal. ”Karena setelah selesai darusan, anak-anak bisa memakan puluran,” pungkasnya. (ram/ron)

Editor : Fendy Hermansyah
#puluran ramadan #jajanan puluran #tradisi puluran #makanan puluran