Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Darusan

Fendy Hermansyah • Jumat, 22 April 2022 - 17:37 WIB
Ilustrasi mengaji (dok jawaposradarmojokerto.id)
Ilustrasi mengaji (dok jawaposradarmojokerto.id)
RAMADAN menjadi momen bagi umat muslim untuk meningkatkan ibadah. Salah satunya dengan memperbanyak amalan membaca Alquran. Kegiatan membaca kitab suci menjadi tradisi di sepanjang bulan puasa. Hampir semua masjid dan musala secara serentak melaksanakan darusan di malam dan pagi hari.

Ketua Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto Ayuhanafiq mengatakan, darusan menjadi salah satu pendanda datangnya Ramadan. Karena, sejak hari pertama puasa, di masjid maupun musala kampung secara rutin menggelar kegiatan membaca Alquran. ”Tradisi darusan ini dilakukan secara bergiliran para jamaah usai salat Tarawih,” terangnya.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, darusan berasal dari kata tadarus yang berarti mempelajari dalam bahasa Arab. Namun, dalam pelafalan bahasa Jawa, penyebutan kata tersebut disederhanakan menjadi darus. ”Di Mojokerto ada juga yang disebut deres atau deresan,” ungkapnya.

Umumnya, darusan dilakukan saat malam hari. Pembacanya pun juga berasal dari jamaah masjid dan warga di sekitar rumah ibadah tersebut. Biasanya, darusan hanya menggunakan satu Alquran. Sehingga, saat seseorang sedang mendapat giliran membaca, jamaah yang lain mengantre sambil menyimak bacaannya.

Meski tak ada pembagian juz secara terstruktur, namun pergantian pembaca pada saat darusan berjalan tertib. Pun demikian durasi pelaksanaannya, darusan akan diakhiri sewaktu-waktu jika sudah dianggap telah mencapai target. ”Karena biasanya terdapat target beberapa kali khatam Alquran selama bulan Ramadan,” paparnya.

Yuhan mengatakan, darusan juga memiliki sisi keunikan tersendiri. Di beberapa masjid atau musala tertentu, terdapat pembagian pembaca Alquran berdasarkan tingkat kelancaran membaca kitab suci. Biasanya, murid dari Taman Pendidikan Alquran (TPQ) di desa tersebut yang berkesempatan mendapat giliran pertama.

Sebab, selain sebagai bentuk meningkatkan amalan di bulan Ramadan, darusan juga menjadi sarana bagi pembaca pemula untuk memperlancar bacaannya. ”Karena pembaca yang masih dalam tahap belajar akan disimak bacaan oleh pendarus yang lain,” tandasnya.

Di samping itu, pembaca yang dinilai fasih membaca kitab suci dengan tajwid yang lebih baik akan mendapat giliran berikutnya. Sedangkan pendarus yang memiliki ketepatan dan kecepatan membaca Alquran biasanya menjadai pemungkas untuk menutup darusan. ”Orang yang terakhir darusan akan memberi tanda batas terakhir bacaan Alquran untuk dilanjutkann di malam berikutnya,” pungkasnya, (ram/ron)


Editor : Fendy Hermansyah
#baca tulis alquran #darusan #mengaji alquran