JELANG berbuka puasa, di masjid maupun musala biasanya menggelar pengajian dengan durasi singkat. Tausiah Ramadan yang juga dikenal ngaji takjilan itu telah menjadi tradisi di masyarakat Mojokerto sepanjang Ramadan.
Ketua Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, ngaji takjilan awalnya digelar di kampung yang berlatar belakang pesantren. Umumnya, tema siraman rohani yang di masjid atau musala yang menyelenggarakan ngaji takjilan berupa amalan-amalan keseharian. ”Materi yang disampaikan berpedoman pada kitab-kitab kuning,” terangnya.
Menurutnya, pengajian tersebut hanya dilakukan di bulan Ramadan. Sehingga, tausiah pendek yang berakhir saat azan Magrib itu disebut dengan ngaji takjilan. Dan takjil yang merujuk pada makanan ringan atau kudapan yang dibawa sendiri oleh jamaah untuk berbuka puasa.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menuturkan, ngaji takjilan juga menjadi salah satu bentuk ujian praktik bagi santri sebelum mendapat predikat sebagai pendakwah. Di sisi lain, ngaji takjilan juga bertujuan melakukan regenerasi tokoh agama di perkampungan. ”Selain mengenalkan ke masyarakat, panggung ngaji takjilan juga untuk memberi pengalaman kepada santri untuk bicara di hadapan umum,” paparnya.
Jika mendapat respons positif bagi masyarakat, maka santri tersebut akan tetap ditunjuk mengisi ngaji takjilan pada Ramadan di tahun berikutnya. Hingga saat ini, tradisi ngaji takjilan masih dapat dijumlai di masjid dan musala dengan mempertahankan rujukan kitab kuning sebagai sumber bertausiah.
Meskipun, kata dia, dalam perjalanannya telah mengalami sejumlah perkembangan. Di antaranya bentuk takjil yang kini lebih dikoordinir. Semula, takjil hanya dibawa dan dikonsumsi oleh masing-masing jamaah, namun saat ini kebanyakan diseragamkan dengan cara penunjukan secara bergiliran. ”Meski perlahan sudah mulai surut, namun masih ada yang melaksanakan ngaji takjilan hingga sekarang ini,” pungkas Yuhan. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah