Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Poso Beduk

Fendy Hermansyah • Rabu, 13 April 2022 - 19:00 WIB
Perajin beduk asal Dusun Sidotangi, Desa Balongsari, Kecamatan Gedeg.
Perajin beduk asal Dusun Sidotangi, Desa Balongsari, Kecamatan Gedeg.
DALAM ajaran Islam, puasa merupakan ibadah yang dilakukan dengan menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal yang dapat membatalkan. Ritual itu dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Namun, di tengah masyarakat, terdapat istilah poso beduk atau puasa setengah hari. Puasa ini menjadi cara mengajarkan anak sebelum memasuki usia balig.

Ketua Divisi Kajian dan Pengembangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, poso beduk merupakan budaya turun temurun dari para orang tua untuk melatih sang buah hati untuk berpuasa Ramadan. Tujuannya, agar anak-anak dapat beradaptasi menuju puasa yang sah sesuai ketentuan agama. ”Biasanya orang tua mengajak anaknya untuk memulai puasa dengan cara makan sahur bersama,” ujarnya.

Hanya saja, anak-anak tidak menjalankan puasa secara penuh layaknya orang dewasa. Sebelum memasuki akil balig, orang tua memberi kompensasi anaknya untuk berbuka lebih awal sebelum waktu magrib.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, umumnya anak akan menjalani puasa separo hari atau mengakhiri puasa tepat saat Salat Duhur. ”Karena dulu setiap tiba waktu Salat Duhur ditandai dengan memukul beduk, maka puasa setengah hari itu disebut sebagai poso beduk,” terangnya.

Tentu, secara ketentuan Islam, makan dan minum sebelum terbenamnya matahari dinilai tidak sah. Tapi, poso beduk menjadi salah satu cara orang tua dalam mendidik anak untuk ikut berpuasa Ramadan.

Sebab, imbuh Yuhan, di dalam poso beduk juga terdapat beberapa fase peningkatan sebagai bentuk pelatihan. Menurutnya, rata-rata anak mulai diajarkan berpuasa sejak memasuki usia sekolah dasar.

Seiring bertambahnya usia, Ramadan di tahun berikutnya akan ditingkatkan menyesuaikan dengan kemampuan. Di antaranya, setelah duhur anak-anak tetap diminta kembali menahan lapar dan dahaga hingga waktu berbuka tiba.

Poso beduk akan memasuki fase akhir saat anak sudah memasuki usia balig atau sudah mampu berpuasa penuh. Orang tua akan memberikan motivasi bagi anaknya yang berhasil berbuka mulai subuh hingga saat azan salat Maghrib berkumandang. ”Jadi, podo beduk merupakan cara yang dibuat orang tua sejak zaman dahulu untuk membiasakan anaknya menjalankan ibadah puasa Ramadan,” tuturnya.

Sebagai bentuk apresiasi, orang tua juga akan memberikan imbalan hadiah saat Hari Raya Idul Fitri. Baik berupa uang saku Lebaran, baju baru, barang yang disukai, maupun sekadar melontarkan pujian kepada sang anak karena sudah berhasil menjalankan puasa penuh. (ram/ron)
Editor : Fendy Hermansyah
#tradisi ramadan #ramadan mojokerto #ramapedia #budaya ramadan #kebiasaan ramadan