SEMENTARA itu, pengabdian Karang Taruna Trisula, Desa Padangasri, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto patut menjadi role model organisasi kepemudaan. Hal itu seiring dengan konsistensinya dalam bergerak memberdayakan masyarakat di berbagai sektor untuk kemandirian ekonomi.
Ketua Karang Taruna Trisula Muhammad Netto Suryono mengatakan, berbagai inovasi dan program berdampak dijalankan kartar. Antara lain kegiatan pemberdayaan yang menyasar pemuda, disabilitas, anak yatim piatu, dan kepala rumah tangga perempuan, hingga pemberdayaan masyarakat untuk mengangkat potensi lokal desa. ”Di mana karang taruna ini juga memberikan dampak nyata, tidak hanya untuk pemudanya saja, tetapi untuk masyarakat secara luas, khususnya Desa Padangasri,” tutur pemuda 29 tahun itu.
Menurutnya, salah satu inovasi yang dilahirkan adalah pembuatan mesin sangrai kopi. Keberadaan alat tersebut memberi dampak secara langsung kepada para petani kopi yang tersebar di penjuru desa. Selain itu, kartar juga membuat inovasi Paringi alias Padangasri Ingin Berbagi yang menjadi wadah bagi anak-anak untuk belajar dan bermain bersama. ”Dan, di sekretariat karang taruna juga disediakan taman baca masyarakat (TBM),” imbuhnya.
Kartar Trisula memiliki 38 pengurus inti dan anggota. Sementara itu, jumlah warga karang taruna mencapai 800 orang yang terdiri dari warga desa berusia 16-30 tahun.
Netto mengakui, tak mudah untuk menjaga program kartar tetap konsisten dan bertahan lama. Mengingat setiap pengurus memiliki kesibukan bekerja masing-masing. Adalah komitmen bersama dan semangat solidaritas yang menjadi kunci Kartar Trisula mampu bertahan dan terus aktif, bahkan terus melahirkan inovasi yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.
”Kami selalu optimistis karang taruna bisa menjadi potensi sumber kesejahteraan sosial, di mana karang taruna menjadi ruang kreatif, ruang gerak pemuda-pemudi yang ada di desa,” pungkasnya. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto