KOTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meninjau pelayanan skrining tuberkulosis (TB) di Kota Mojokerto, kemarin (29/9). Bermodal fasilitas kesehatan yang mumpuni, pemerintah pusat optimistis daerah dengan tiga kecamatan ini mampu menjadi kota pertama yang bebas TB di Indonesia.
Kunjungan itu dilaksanakan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Oktavianus bersama Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus. Keduanya meninjau kegiatan skrining TB di Kelurahan Surodinawan dan RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo.
”Saya melihat skrining yang dilakukan sudah benar, yakni menyasar orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TB dan berisiko sakit,” kata Benny, panggilan Benjamin Paulus Oktavianus.
Menurutnya, Kota Mojokerto memiliki modal sumber daya manusia (SDM) dan fasilitas kesehatan yang mumpuni. Ditopang 6 rumah sakit, 6 puskesmas, dan 10 puskesmas pembantu, wilayah ini mampu memberi pelayanan pengobatan bagi pasien dari luar daerah.
Dengan luasan wilayah yang relatif kecil dan infrastruktur kesehatan yang lengkap, penemuan kasus TB dan pelacakan terhadap masyarakat yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TB bisa dilakukan secara maksimal.
”Dengan data yang ada, seluruh warga Kota Mojokerto yang kontak erat harus diperiksa kesehatannya, difoto rontgen, yang sakit dapat pengobatan, yang tidak sakit diberi obat pencegahan,” pinta dokter spesialis paru-paru itu.
Benny mengungkapkan, pemberantasan TB menjadi program nasional karena Indonesia merupakan negara dengan kasus TB terbesar kedua di dunia. Menurutnya, penguatan skrining menjadi langkah efektif dalam memutus penularan penyakit mematikan tersebut.
Melalui konsistensi yang dijalankan pemkot, dirinya berharap Kota Mojokerto bisa menjadi daerah pertama di Indonesia yang mencatatakan nol kasus TB dalam waku tiga tahun ke depan. ”Harapan saya tiga tahun ke depan Mojokerto jadi salah satu kota bebas TB pertama di Indonesia,” imbuhnya.
Sementara itu, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari memastikan pemkot berkomitmen mendukung penguatan sektor kesehatan, termasuk dalam upaya eliminasi TB. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui dukungan anggaran kesehatan yang dialokasikan lebih dari 20 persen.
”Anggaran kesehatan kita lebih dari 20 persen, lebih dari yang ditetapkan dalam mandatory spending. Kemudian kita juga memiliki para kader yang siap menjadi garda terdepan untuk berkolaborasi dalam eliminasi TB,” tegasnya.
Menurutnya, pelaksanaan skrining TB yang terintegrasi dengan program cek kesehatan gratis (CKG) di Kota Mojokerto menjadi bagian dari penguatan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam mempercepat penemuan serta penanganan kasus TB. Dukungan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, data yang terintegrasi, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk mewujudkan target eliminasi TB. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto