Gubernur Khofifah dan Gus Barra Gelar Salat Minta Hujan di halaman Kantor Pemkab Mojokerto

Khudori Aliandu • Dipublikasikan Sabtu, 19 September 2026 | 19:21 WIB
BERMUNAJAT: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Muhammad Albarra bersama sejumlah ulama dan tokoh agama melaksanakan salat Istisqa dan doa bersama untuk meminta hujan di tengah kemarau panjang di halaman Pendapa Pemkab Mojokerto, Jumat (18/9). (Dori/JPRM)
BERMUNAJAT: Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Bupati Muhammad Albarra bersama sejumlah ulama dan tokoh agama melaksanakan salat Istisqa dan doa bersama untuk meminta hujan di tengah kemarau panjang di halaman Pendapa Pemkab Mojokerto, Jumat (18/9). (Dori/JPRM) 

Penyempurna Ikhtiar Teknis Atasi Kemarau Panjang dan Krisis Air Bersih

KABUPATEN - Pemprov Jatim bersama Pemkab Mojokerto menggelar salat Istisqa dan doa bersama, Jumat (18/9) siang. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk ikhtiar untuk bermunajat memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang.

Bertempat di halaman Pendapa Graha Maja Tama Pemkab Mojokerto, kegiatan tersebut dihadiri langsung Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Bupati Mojokerto Muhammad Albarra, serta sejumlah ulama dan tokoh agama.

Khofifah mengungkapkan, salat Istisqa merupakan penyempurna dari berbagai upaya teknis yang telah dilakukan pemprov dalam menghadapi kemarau panjang. ’’Kondisi kemarau panjang ini sudah diprediksi dan BMKG berkali-kali mengingatkan. Namun ikhtiar yang kami lakukan sudah maksimal, sejak 3 September lalu kami telah melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC),’’ terangnya, Jumat (18/9).

Menurutnya, OMC dilakukan dengan menabur garam di pergerakan awan potensial. Dan, lanjut Khofifah, langkah tersebut mampu menghasilkan hujan meski dengan intensitas ringan hingga sedang di beberapa daerah. ’’Ketika BMKG menyampaikan ada awan yang bergerak, itu langsung kami tindaklanjuti dengan menebarkan garam. Hasilnya, sudah terjadi hujan,’’ paparnya.

Selain itu, Pemprov Jatim dan Pemkab Mojokerto juga terus mengupayakan pencarian sumber air baru melalui penyediaan sumur bor. Meski demikian, proses tersebut menghadapi tantangan geografis yang cukup berat.

Khofifah menyebut, di sejumlah lokasi pengeboran bahkan harus dilakukan hingga kedalaman ratusan meter sebelum menemukan sumber air. ’’Ada yang berhasil dan ada yang belum berhasil. Bahkan, ada pengeboran yang sudah mencapai kedalaman 200 meter tetapi masih menemukan batu, hingga mata bornya putus sebanyak 19 kali. Jadi, ikhtiar itu betul-betul sudah kita lakukan bersama-sama,’’ urainya.

Dikatakannya, pemprov juga melakukan pencarian titik-titik sumber air yang potensial untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Di antaranya dalam penanganan krisis air di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Khofifah menyampaikan, sumber air dari kawasan Trawas sempat menjadi salah satu pilihan, hanya saja debitnya belum cukup kuat untuk dialirkan menuju ke permukiman yang berada di kaki Gunung Penanggungan tersebut. Sebagai alternatif, pencarian titik sumber air lainnya masih terus diupayakan. ’’Memang harus menggunakan teknologi-teknologi tertentu yang bisa mendeteksi di mana sebetulnya sumber air yang potensial untuk bisa dimanfaatkan,’’ tandasnya.

Sementara itu, Bupati Mojokerto Muhammad Albarra menyambut baik pelaksanaan salat Istisqa yang digelar di Kabupaten Mojokerto. Terlebih, sejumlah wilayah seperti Desa Kunjorowesi dan Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro serta Desa Duyung, Kecamatan Trawas sampai saat ini masih mengalami krisis air bersih akibat kekeringan berkepanjangan. ’’Di daerah kami cukup banyak wilayah yang mengalami kekeringan air. Kami berharap dengan pelaksanaan salat Istisqa ini, hujan dapat segera turun membawa berkah dan kemanfaatan bagi masyarakat tanpa menimbulkan bencana,’’ harap sosok yang akrab disapa Gus Barra ini. (ram/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
salat istiqa salat minta hujan pemprov jatim Pemkab Mojokerto gubernur khofifah