Kalaksa BPBD Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin mengungkapkan, pembentukan relawan di tingkat desa dinilai penting untuk membantu penanganan kebakaran. Upaya tersebut bertujuan meminimalkan dampak sekaligus mencegah timbulnya korban. ”Inti penanganan bencana adalah kesadaran masyarakat,” paparnya, Kamis (10/9).
Tak hanya itu, keberadaan relawan juga diharapkan mampu meningkatkan mitigasi bencana di wilayah desa sehingga kesadaran dan kewaspadaan masyarakat dalam mencegah terjadinya kebakaran bisa ditingkatkan. ”Semakin banyak masyarakat yang memiliki pengetahuan dan kesadaran terhadap potensi bencana, semakin kuat pula sistem kesiapsiagaan di tingkat desa,” tuturnya.
Ia menegaskan, relawan pemadam kebakaran telah dibentuk di empat desa selama periode Agustus-September 2026. Masing-masing di Desa Mlirip, Kecamatan Jetis; Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan; Desa Medali, Kecamatan Puri; dan Desa Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo.
Rinaldi menyatakan, BPBD akan terus memperluas pembentukan relawan di desa lainnya di Kabupaten Mojokerto. ”Selanjutnya kami akan terus membentuk relawan di berbagai desa lainnya,” tandasnya.
Terlebih, intensitas kebakaran sepanjang musim kemarau tahun ini mengalami peningkatan drastis. Dalam triwulan terakhir ini telah terjadi sebanyak 92 kejadian kebakaran. BPBD mencatat, pada Juni lalu hanya 6 kasus kebakaran yang ditangani tim damkar.
Namun, di bulan Juli grafiknya langsung meningkat tajam dengan total 22 kasus. Bahkan, memasuki fase puncak kemarau pada Agustus 2026, kasus kebakaran mencapai 64 kejadian baik yang melanda gedung dan permukiman maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (ram/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto