KOTA - Penularan penyakit tuberkulosis (TBC) masih menjadi momok yang harus ditekan. Di Kota Mojokerto, upaya memutus rantai penyebaran penyakit mematikan itu dilakukan dengan menggencarkan skrining dan tracing.
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menuturkan, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi di dunia. Karena itu, diperlukan kolaborasi semua elemen untuk mencegah dan menangani penyakit menular tersebut.
Salah satunya dengan memahami kelompok masyarakat yang paling berisiko terpapar TBC agar upaya pencegahan dapat dilakukan lebih optimal. Mereka yang perlu mendapat perhatian antara lain perokok aktif, perokok pasif, penderita penyakit penyerta seperti diabetes, HIV, dan hipertensi.
’’Setelah kita mengenali mana saja yang menjadi potensi terpapar TBC, kita harus paham bagaimana mencegahnya. Minimal kita bisa menjaga diri sendiri dan keluarga agar terhindar dari penyakit ini,’’ kata Ning Ita, sapaan Wali Kota dalam Rapat Koordinasi Atasi Tuberkulosis dan Penyakit Menular Lainnya (Radiasi Pemula) di Kelurahan Purwotengah, Kecamatan Kranggan, Rabu (12/8/).
Dirinya menekankan pentingnya pelaksanaan skrining dan pelacakan kontak erat (tracing) untuk menemukan kasus TBC sedini mungkin. Menurut Ning Ita, langkah tersebut menjadi salah satu kunci utama dalam memutus rantai penularan penyakit menular di masyarakat.
’’Kita harus melakukan skrining dan tracing supaya kasus bisa menemukan penderitanya, berbeda dengan penyakit tidak menular yang cukup dengan pemeriksaan kesehatan,’’ jelasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto