Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan di Wilayah Kabupaten Mojokerto Diperkirakan Meningkat

Yulianto Adi Nugroho • Minggu, 12 Juli 2026 | 03:01 WIB
PERSIAPAN: Kegiatan Apel Gladi Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2026 di Taman Brantas Indah (TBI), kawasan Sungai Brantas, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Rabu (8/7). (dok Pemkab Mojokerto for JPRM)
PERSIAPAN: Kegiatan Apel Gladi Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2026 di Taman Brantas Indah (TBI), kawasan Sungai Brantas, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Rabu (8/7). (dok Pemkab Mojokerto for JPRM) 

Pemkab Libatkan 295 Personel Gabungan untuk Mitigasi 

KABUPATEN - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah di depan mata. Bencana tahunan yang datang setiap musim kemarau itu diperkirakan akan mengalami peningkatan tahun ini. Upaya antisipasi salah satunya dilakukan Pemkab Mojokerto dengan menyiapkan 295 personel gabungan yang telah dikumpulkan dalam apel kesiapsiagaan, Rabu (8/7).

Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa mengatakan, potensi karhutla diperkirakan meningkat selama kemarau tahun ini. Tingkat kerawanan karhutla di Kabupaten Mojokerto, lanjutnya, cukup tinggi lantaran luasnya kawasan hutan produksi, hutan lindung, dan hutan konservasi.

’’Oleh karena itu, upaya pencegahan harus menjadi prioritas utama yang dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat,’’ ucapnya saat memimpin Apel Gladi Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2026 di Taman Brantas Indah (TBI), kawasan Sungai Brantas, Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Rabu (8/7).

Mengacu penetapan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan Tahun 2026 di Jawa Timur, Gus Barra menuturkan, seluruh daerah dituntut meningkatkan kewaspadaan melalui langkah mitigasi yang terukur, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Upaya antisipasi itu salah satunya dilakukan dengan mengumpulkan 295 personel gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, Basarnas, Satpol PP, PMI, Perum Perhutani, relawan kebencanaan, dunia usaha, serta berbagai instansi terkait.

Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bentuk kolaborasi pentahelix untuk memperkuat kapasitas penanggulangan bencana. Apel juga menjadi sarana memastikan kesiapan personel, peralatan, dan sistem koordinasi dalam menghadapi potensi karhutla yang sudah di depan mata.

’’Apel kesiapsiagaan ini merupakan wujud komitmen, keseriusan, dan tanggung jawab kita bersama dalam memastikan seluruh sumber daya yang dimiliki berada dalam kondisi siap menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan,’’ imbuh Bupati.

Dalam apel tersebut, personel gabungan memperagakan proses penanganan kebakaran hutan dan lahan diperagakan oleh personel gabungan. Simulasi pertolongan kecelakaan air (laka air) di aliran Sungai Brantas sebagai bentuk uji kesiapan personel, peralatan, sistem komando, dan koordinasi lintas sektor juga diperagakan.

Di samping memaksimalkan kecakapan personel, Gus Barra mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat langkah pencegahan melalui patroli terpadu. Selain itu, upaya edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara terbuka juga ditingkatkan. Di sisi lain optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi dan sistem peringatan dini juga ditingkatkan.

’’Kami mengimbau masyarakat agar menjadi pelopor dalam menjaga lingkungan dengan tidak melakukan pembakaran terbuka serta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun potensi kebakaran. Pencegahan yang dilakukan sejak dini akan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi,’’ tandasnya. (adi/fen)

Editor : Fendy Hermansyah
#mitigasi bencana #kebakaran mojokerto #Pemkab Mojokerto #karhutla mojokerto