Salah satunya lewat Gerakan Bersama Masyarakat di Posyandu Integrasi Terpadu (Gemapitu). Meski capaian cukup progresif, dinkes terus melakukan evaluasi terhadap indikator yang belum maksimal. Seperti pelayanan ibu hamil dan pelayanan balita, hingga penguatan posyandu menjadi fokus perbaikan ke depan.
’’Dalam Gemapitu ini peran posyandu menjadi sangat strategis. Karena dimaksimalkan untuk percepatan dan penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) serta percepatan penurunan stunting,’’ kata Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati.
Melalui penguatan tersebut, diharapkan kualitas hidup masyarakat semakin optimal. Hadirnya Gemapitu, lanjut Dyan, terbukti meningkatkan kunjungan masyarakat ke posyandu, sehingga capaian jumlah sasaran per siklus hidup mengalami peningkatan.
’’Dengan adanya Gemapitu ini, semakin memudahkan penyelenggaraan posyandu aktif di desa. Pengetahuan kader pun juga mengalami upgrade karena setiap kami melakukan kunjungan Gemapitu, kami juga meningkatkan kapasitas, pengetahuan, monitoring, serta evaluasi kegiatan posyandu terkait kesehatan masyarakat,’’ papar dia.
Dia menjelaskan, berkat Gemapitu, prevalensi kasus stunting pada 2025 turun mencapai 1,78 persen dari tahun sebelumnya, yakni 2,7 persen. Sedang prevalensi wasting atau gizi buruk dan kurang pada balita juga mengalami penurunan untuk tahun 2025 sebanyak 3,03 persen dari 3,7 persen di tahun 2024.
’’Prevalensi underweight (berat badan kurang dan sangat kurang) juga mengalami penurunan dari 4,1 persen di 2024 kemarin, menjadi 3,7 persen di tahun 2025,’’ bebernya.
Untuk mendukung program prioritas nasional, layanan cek kesehatan gratis (CKG) dinkes turut melahirkan inovasi lainnya. Terobosan tersebut dituangkan dalam program Aksi Bergizi, Minum Susu Bersama di Sekolah Di Hari Jumat (Suju).
’’Dalam pelaksanaannya, Suju bertujuan meningkatkan perilaku sehat, asupan gizi, dan status kesehatan remaja melalui kegiatan aksi bergizi di sekolah. Selain itu, kegiatan ini juga menerapkan CKG yang tidak hanya menyasar pada siswa tapi juga pada seluruh guru di sekolah,’’ jelas Dyan.
Adapun kegiatan Suju yang dilaksanakan setiap satu minggu sekali dengan sasaran seluruh murid SD-SMP ini sudah terjadwal. Selain memberikan materi terkait gizi seimbang pada seluruh siswa, mereka juga diajak senam bersama agar bisa meningkatkan kesehatan sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh anak.
’’Dalam kegiatan tersebut disediakan susu, roti sandwich dan buah jeruk. Di mana komposisi tersebut bisa meningkatkan gizi anak-anak. Ketika gizi anak sekolah terpenuhi dengan baik, maka kasus anemia pada remajapun bisa diturunkan,’’ urainya.
Capaian tersebut menjadi potret satu tahun kerja pemerintahan daerah dalam menempatkan kesehatan sebagai fondasi pembangunan. ’’Ketika warga merasa dilayani dengan baik, di situlah makna sesungguhnya dari pembangunan kesehatan,’’ tandasnya. (oce/fen)
Editor : Fendy Hermansyah