Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

SMK dengan Masa Studi Empat Tahun Bakal Diperbanyak, Begini Penjelasan Mendikdasmen Abdul Mu'ti

Indah Oceananda • Kamis, 19 Februari 2026 | 09:20 WIB

 

DIPERPANJANG: Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam sambutannya di SMK Mutia Ngoro beberapa waktu lalu menyampaikan rencana penambahan SMK dengan masa studi 4 tahun.
DIPERPANJANG: Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam sambutannya di SMK Mutia Ngoro beberapa waktu lalu menyampaikan rencana penambahan SMK dengan masa studi 4 tahun.
Penambahan Setahun untuk Meningkatkan Daya Saing Lulusan 

MOJOKERTO RAYA - Pemerintah berencana menambah masa studi di jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK) menjadi empat tahun. Kebijakan penambahan masa studi SMK ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing lulusan di tingkat internasional. 

Dorongan tersebut diungkapkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat meresmikan gedung DKV di SMK Muhammadiyah 3 (Mutia) Ngoro, Mojokerto, Kamis (12/2) lalu. Menurutnya, rencana ini merupakan salah satu dari program prioritas Kemendikdasmen untuk SMK. Tujuannya, untuk menyiapkan siswa SMK menghadapi dunia industri.

’’Ada SMK yang sudah kita rancang masa studinya empat tahun. Harapan kami dengan SMK empat tahun, mereka lebih siap masuk dunia kerja dan termasuk SMK yang memenuhi kebutuhan dunia kerja di luar negeri,’’ ungkapnya. 

Mu’ti menyebut, ada beberapa pertimbangan yang menjadikan rencana perpanjangan masa studi siswa SMK. Seperti dalam hal usia, banyak lulusan SMK tiga tahun masih berusia di bawah 18 tahun, sehingga hal tersebut tidak selaras dengan kualifikasi di banyak perusahaan.

’’Selain skill-nya kita tambah di satu tahun terakhir, juga usianya karena banyak yang belum bisa bekerja karena masih di bawah 18 tahun. Menurut UNICEF, standar internasional anak-anak itu yang usianya sampai 18 baru dia boleh kerja,’’ terang dia. 

Ia mengatakan, skema yang dirancang adalah menambah masa belajar satu tahun yang secara khusus untuk persiapan kerja di luar negeri. ’’Satu tahun itu adalah persiapan mereka masuk dunia kerja. Kita kembangkan SMK yang kita siapkan untuk memenuhi kebutuhan kerja di luar negeri, sehingga kita bekali dari awal tidak hanya skill-nya tetapi juga budayanya dan bahasanya,’’ bebernya. 

Tak sekadar menekankan pada prospek lulusan sebagai pekerja, Mu’ti juga menyebut beberapa SMK akan difokuskan agar memiliki sistem pembelajaran sesuai dengan keunggulan lokal di wilayahnya.

’’Misalnya di Mojokerto ini unggulan lokal, bisa juga SMK Pertanian karena dapat mendukung program swasembada pangan. Jika nanti misalnya lewat Ibu Gubernur, SMK di Mojokerto berbasis pertanian akan menjadi bagian afirmasi untuk mendorong SMK berbasis unggulan lokal,’’ tandas Abdul Mu’ti. 

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Kabupaten-Kota Mojokerto Pinky Hidayati menuturkan, di Mojokerto sendiri sudah terdapat SMK yang menerapkan masa studi empat tahun, yakni SMKN 1 Dlanggu. ’’Memang tambahan satu tahun dalam masa studi SMK ini difokuskan pada penguatan bahasa asing  dan keterampilan teknis siswa saat di dunia industri nanti,’’ terangnya. 

Dia menambahkan, program tambahan studi satu tahun ini sementara masih bersifat pilihan. Biasanya diterapkan di SMK yang secara rutin mengirim lulusan ke luar negeri. ’’Jepang biasanya menjadi salah satu negara tujuan utama bagi lulusan SMK karena permintaan tenaga kerja yang terus meningkat,’’ tandas dia. (oce/fen)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#smk mojokerto #Masa Studi SMK #masa studi empat tahun #lama studi smk #Mendikdasmen Abdul Mu ti