KOTA - Tumpukan sampah liar tidak hanya terlihat di Jalan Ken Dedes, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Di beberapa permukiman warga, tumpukan sampah rumah tangga juga tampak dibiarkan tidak terurus di depan rumah sepekan terakhir. Kondisi ini yang kian dikeluhkan warga lantaran aroma busuk menyengat mulai mengganggu.
Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Mojokerto, sampah-sampah tersebut belum bisa dialihkan karena menunggu antrean pembuangan di Tempat Penampungan Sampah (TPS) Wates, Jalan Penanggungan. Meski resmi ditutup akhir Desember 2025 lalu, namun TPS Wates masih bisa menampung sampah dari permukiman warga, utamanya dari lingkungan perumahan.
Hanya saja, volume dan intensitasnya penampungan sampahnya dibatasi. Jika sebelum bisa dua sampai tiga hari sekali, saat ini hanya sepekan sekali. ’’Sudah seminggu ini petugas sampah tidak mengambil sampah di rumah warga. Informasinya karena pengumpulan di TPS Wates harus antre,’’ ujar FT, warga RW 2 Perumnas Wates.
Akibatnya, banyak warga yang terpaksa membuang sampah sendiri ke TPS. Tak jarang dari mereka membuangnya ke sampah liar. Termasuk di lahan sawah samping Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Wates.
Meski sudah ditandai dengan papan larangan membuang sembarangan, namun sejumlah oknum warga tetap membuang karena sudah tidak ada pilihan tempat lagi. ’’Banyak yang buang ke sana (sampah liar samping TPS3R) karena nggak mau sampah di depan rumahnya tambah membusuk,’’ imbuhnya.
Sedangkan, kabar pembatasan volume dan intensitas penampungan sampah di TPS dibantah Lurah Wates, Eka Andriansyah. Menurutnya, sampah rumah tangga tetap bisa ditampung di TPS Penanggungan. ’’Sesuai kesepakatan dengan perwakilan setiap RW, sampah masih bisa ditampung di TPS Wates. Tidak ada pembatasan,’’ ujarnya.
Eka juga menyayangkan ulah oknum yang ngotot membuang sampahnya sendiri dengan cara ngawur. Utamanya, oknum pedagang kaki lima (PKL) yang memilih membuang sampah di lahan kosong ketimbang di TPS.
Hal ini yang perlu didorong lewat pengawasan ketat oleh petugas ketenteraman dan ketertiban (trantib) di masing-masing lingkungan. ’’Kami mulai instruksikan bersama warga agar ada pengawasan ketat di beberapa titik lahan kosong. Jika ditemukan ada yang membuang sampah sembarangan, akan kami siapkan sanksi,’’ tandasnya.
Eka menegaskan, keberadaan sampah liar di Jalan Ken Dedes juga mendapat tanggapan serius dari Pemkot Mojokerto. Pagi ini, rencananya seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dikerahkan kerja bakti membersihkan sampah yang berserakan.
Kerja bakti tersebut berdasarkan instruksi Presiden Prabowo Subianto lewat Gerakan Indonesia ASRI (aman, sehat, resik, indah). Yakni, gerakan nasional untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan tertata.
’’Pagi ini (5/2) akan diadakan kerja bakti oleh seluruh OPD di Kota Mojokerto bersama perwakilan warga di dekat TPS3R Wates untuk membersihkan sampah liar. Ini giat awal dari program Gerakan Indonesia ASRI,’’ tandasnya.
Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mojokerto menyatakan, penanganan sampah membutuhkan peran aktif pemerintah dan kesadaran penuh dari masyarakat. Termasuk pengelolaan sampah yang efektif mulai pengumpulan dari rumah tangga hingga pengelolaan di TPA.
Pengaktifan TPS3R Wates juga terus disiapkan guna menggantikan peran TPS Wates di Jalan Penanggungan dan TPS Pasar Burung di Jalan Benteng Pancasila (Benpas) yang sejak akhir tahun lalu resmi ditutup DLH.
’’Insya Allah TPS3R akan segera aktif dan dikelola efektif oleh Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) yang terbentuk. Untuk volume sampah rumah tangga dari Kelurahan Wates sendiri bisa mencapai 5 ton dalam sehari,’’ paparnya. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah