Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa mengatakan, keterlibatan perguruan tinggi bagian penting dalam mendukung program prioritas pemerintah daerah. Khususnya dalam pembangunan sumber daya manusia melalui percepatan penurunan stunting. ’’Sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan masyarakat merupakan kunci utama dalam mewujudkan percepatan penurunan stunting yang berkelanjutan,’’ ungkapnya.
Utamanya, terang Gus Barra, stunting merupakan permasalahan strategis nasional yang memerlukan penanganan secara konvergen dan terintegrasi. Pemkab Mojokerto terus mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat intervensi spesifik dan sensitif di tingkat desa. ’’Nah, di awal tahun ini, kita fokuskan di lima desa di Kecamatan Trawas, ada Desa Ketapanrame, Tamiajeng, Duyung, Kedungudi, dan Selotapak,’’ tuturnya.
Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Mojokerto tercatat sebesar 15,3 persen, sementara di Provinsi Jawa Timur sebesar 14,7 persen. Angka tersebut menunjukkan pentingnya penguatan peran semua pihak dalam mendukung upaya pencegahan dan penanganan stunting secara berkelanjutan. ’’Jadi, KKN mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya ini menjadi kesempatan bagi pemda melakukan percepatan penurunan stunting,’’ tegasnya.
Kehadiran mahasiswa diharapkan dapat menjadi mitra strategis Pemda dalam mendukung edukasi masyarakat terkait gizi seimbang, pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan, penguatan peran posyandu, dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. ’’Kolaborasi ini sebagai upaya percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih optimal. Sekaligus mendorong terwujudnya desa sehat dan generasi Mojokerto yang berkualitas,’’ pungkasnya. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah