Pengisian Tiga Kursi Kepala Dinas, Komunikasi dan Loyalitas Jadi Penentu
KABUPATEN - Pelantikan hasil seleksi terbuka (selter) pengisian tiga jabatan kepala dinas di lingkungan Pemkab Mojokerto dipastikan akan dilaksanakan pada awal tahun 2026. Hal tersebut ditegaskan Bupati Mojokerto Muhammad Albarraa agar seluruh perangkat daerah tetap fokus menuntaskan program kerja dan tanggung jawabnya hingga akhir tahun ini.
’’Pelantikan hasil selter nanti, kita targetkan awal tahun,’’ ungkap Gus Barra. Meskipun seluruh tahapan seleksi terbuka pengisian tiga jabatan kepala dinas telah tuntas, pihaknya tidak ingin melakukan pelantikan pada bulan Desember. Alasannya, di pengujung tahun tidak boleh ada perubahan tanggung jawab agar program kerja yang telah ditargetkan dapat diselesaikan hingga tutup buku.
’’Kenapa harus awal tahun, karena saya ingin mereka lebih fokus menuntaskan program kerja di tahun berjalan ini. Kami tidak ingin mengalihkan fokus tanggung jawab yang diemban para OPD,’’ tegasnya.
Gus Barra mengaku telah mengantongi nama-nama pejabat yang akan dipilih dari tiga besar hasil seleksi yang sebelumnya disodorkan oleh tim pansel. Pemilihan pejabat definitif hasil lelang jabatan tersebut dilakukan dengan penuh pertimbangan, terutama untuk dua OPD besar yang berkaitan langsung dengan keberlangsungan pembangunan ke depan, seperti infrastruktur, investasi, dan peningkatan sumber daya manusia.
’’Dinas Pendidikan dan PUPR ini kan OPD strategis. Jadi harus berhati-hati memilih siapa yang menahkodai. Selain nilai, pengalaman juga menjadi indikator penting,’’ paparnya.
Gus Barra mengakui, ketiga nama yang masuk pada masing-masing dinas memiliki kompetensi yang tidak diragukan lagi. Hal itu terbukti dengan keberhasilan mereka menembus tiga besar dan menyisihkan sejumlah kompetitor lainnya melalui berbagai tahapan seleksi, mulai dari administrasi, uji kompetensi, sosial kultural, hingga adu gagasan di hadapan lima panelis. ’’Ketiganya sama-sama berkompeten. Tetapi saya juga harus mempertimbangkan aspek lainnya, misalnya komunikasi dan loyalitas,’’ jelasnya.
Ia menekankan pentingnya kemampuan komunikasi bagi pejabat yang akan menduduki jabatan strategis. Komunikasi yang buruk berpotensi menjadi bumerang dan mengganggu kondusivitas organisasi dalam mencapai target kinerja. ’’Ini kan posisi-posisi strategis, biasanya jadi perhatian dan banyak mata memandang. Kalau salah komunikasi, salah ucap, salah statement, kan bahaya juga. Seperti Dam Wonokerto itu, niatnya bagus, tetapi karena salah komunikasi akhirnya jadi blunder ke mana-mana dan menimbulkan salah persepsi,’’ pungkas Gus Barra. (ori/fen)
Editor : Fendy Hermansyah