EWS di bantaran Sungai Sadar sisi timur jembatan Jalan Pahlawan, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, itu merupakan satu-satunya perangkat peringatan banjir di Kota Mojokerto. Alat yang dilengkapi lampu tersebut dipasang pada akhir 2023 setelah banjir menerjang sejumlah kelurahan pada musim penghujan awal tahun.
Namun, EWS banjir yang dipasang Satuan Pelaksana Penanganan Bencana (Satlak PB) Satpol PP Kota Mojokerto itu hanya aktif selama setahun. Kini, saat curah hujan sedang tinggi, perangkat tersebut sudah tak berfungsi. ”Sejak Desember 2024 atau Januari 2025 ini sudah mati,” ucap salah satu mantan personel Satlak PB, kemarin (7/12).
Sebelum BPBD Kota Mojokerto dibentuk pada September 2025, urusan kebencanaan diampu satpol PP lewat Satlak PB yang menjadi bagian dari Bidang Trantibum. Menurut pegawai tersebut, mangkraknya EWS ini karena sensor pendeteksi level ketinggian air yang tertanam di sungai sudah mati. Kondisi ini membuat perangkat peringatan dini itu pun muspro. ”Komponen ini harusnya diganti, karena hanya berumur satu tahun,” tuturnya. ”Selain itu, paket data untuk mengirim data dari EWS ke HP (handphone) juga tidak diisi, jadi tidak berfungsi,” imbuhnya.
Agen Informasi Bencana BPBD Jatim wilayah Mojokerto Achmad Kurniawan menyatakan, EWS memiliki fungsi mengukur ketinggian air sungai. Melalui alat tersebut, level debit air dapat diketahui secara real time. Ketika arus sungai telah mencapai ketinggian tertentu yang berpotensi memicu banjir, EWS bakal mengirim sinyal peringatan secara otomatis. ”Jadi, alarmnya akan bunyi, sehingga langkah evakuasi bisa segera dilakukan,” terangnya.
Sementara itu, Kalaksa BPBD Kota Mojokerto Ganesh P. Kresnawan tak kunjung merespons saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Mojokerto terkait kondisi EWS. Matinya perangkat peringatan dini banjir tersebut dapat menghambat langkah mitigasi bencana. Terlebih saat ini curah hujan sedang tinggi. sehingga aliran sungai rawan meluap dan memicu banjir. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah