- Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
KABUPATEN - Pemkab Mojokerto mengambil langkah untuk menetapkan status siaga darurat bencana. Keputusan tersebut diambil menyusul adanya potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem di 18 wilayah kecamatan. Penetapan status keadaan darurat bencana ini dituangkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Mojokerto Nomor 188.45/405/HK/416-012/2025.
Dalam SK yang ditandatangani Muhammad Albarraa tersebut, status siaga darurat bencana hidrometeorologi diberlakukan hingga 31 Mei 2026 mendatang. Seiring dengan penetapan status itu, BPBD Kabupaten Mojokerto mengaktifkan posko bencana. Termasuk menyiagakan personel, peralatan hingga unsur pendukung penanganan kebencanaan lainnya. ”Posko dan seluruh personel kita siagakan dari Desember sampai awal tahun depan,” papar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim, kemarin (5/12).
Total sebanyak 220 personel gabungan yang dilibatkan dalam posko bencana hidrometeorologi. Selain petugas BPBD, bantuan personel juga didukung dari unsur TNI/Polri, relawan hingga masyararakat. Dia mengatakan, dengan penetapan status siaga darurat bencana, para personel ditugaskan memantau berbagai potensi bencana hidrometrologi. Terutama ancaman angin kencang, banjir, hingga tanah longsor.
Dalam pelaksanaannya, setiap hari posko bencana dijaga secara bergiliran secara sif pagi dan sore hari. Selain memantau kondisi cuaca secara realtime, patugas juga menaungi sistem informasi dan komunikasi penanggulangan bencana. ”Di posko yang piket setiap hari 8 personel serta tim kedaruratan dan logistik 6 orang. Seluruhnya on call 24 jam,” imbuh dia.
Berdasarkan peta kerawanan bencana BPBD Kabupaten Mojokerto, potensi banjir dengan tingkat sedang hingga tinggi berada di sejumlah wilayah yang dilintasi aliran sungai. Meliputi, Kecamatan Dawarbalandong, Kemlagi, Jetis, dan Gedeg. Termasuk di sebagian wilayah Kecamatan Sooko, Mojoanyar, Bangsal, Mojosari, Pungging, hingga Ngoro.
Sementara itu, sejumlah wilayah juga berada di daerah yang rawan banjir bandang. Terutama daerah yang berada di kaki pegunungan yang terpetakan berpotensi sedang hingga tinggi. Antara lain, Kecamatan Pacet, Trawas, Jatirejo, Gondang, Ngoro, hingga sebagian wilayah Kutorejo dan Pungging.
Selain itu, Kabupaten Mojokerto juga tidak bisa lepas dari ancaman tanah longsor. Risiko tertinggi ada di wilayah Kecamatan Pacet, Trawas, Gondang, Jatirejo dan Ngoro dengan topografi perbukitan dan pegunungan.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Mojokerto Rinaldi Rizal Sabirin menambahkan, seluruh unsur pendukung posko telah disiapsiagakan, mulai dari personel, peralatan, hingga mekanisme koordinasi lintas sektor.
’’Kami memastikan Posko Bencana Hidrometeorologi beroperasi penuh selama 24 jam. Setiap laporan masyarakat akan ditindaklanjuti secara cepat melalui sistem komando yang terintegrasi. Kolaborasi dengan relawan, perangkat desa, TNI, Polri, dan stakeholder lainnya adalah kunci keberhasilan penanganan bencana,’’ jelasnya.
Rinaldi juga mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah rawan banjir, longsor, dan angin kencang. ’’BPBD tidak bisa bekerja sendirian. Peran masyarakat sangat penting, baik dalam kesiapsiagaan maupun penyampaian informasi awal. Segera laporkan jika melihat tanda-tanda bencana,’’ pungkasnya. (ori/ram/ris)
Editor : Fendy Hermansyah