KABUPATEN - Pemkab Mojokerto terus menekan angka tingkat pengangguran terbuka (TPT). Langkahnya dengan menggelar job fair hingga meningkatkan keterampilan masyarakat.
Bupati Muhammad Albarraa mengatakan, kegiatan job fair yang dilakukan Disnaker ini menjadi salah satu komitmen pemda memangkas angka pengangguran terbuka di Bumi Majapahit. Kondisi itu bahkan mendapat antusiasme dari para pencari kerja (pencaker). ’’Dari 1.300-an lowongan kerja yang dibuka 27 perusahaan pada job fair ini, ternyata pendaftarnya membeludak. Ada 9.354 pencari kerja yang memanfaatkan,’’ ungkapnya.
Tidak hanya berasal dari Mojokerto saja, melainkan datang dari berbagai daerah, di Jawa Timur, bahkan, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, sebagaimana data yang masuk. Kendati begitu, Gus Barra mengungkapkan, sebagian besar dari warga lokal. ’’Sebesar 53,58 persen atau 5.012 adalah warga Mojokerto, selebihnya 43,42 persen atau sebanyak 4.342 orang warga dari luar daerah. Belum lagi yang datang secara langsung,’’ paparnya.
Meski disadari jumlah lowongan tak seimbang dengan pencaker, Gus Barra optimistis, dengan kolaborasi dan komitmen yang kuat, TPT di Kabupaten Mojokerto bisa ditekan tiap tahunnya. Buktinya, sesuai data, tingkat pengangguran terbuka Kabupaten Mojokerto berada di angka 3,76 persen pada tahun 2024. Itu mengalami penurunan sebesar 0,97 persen dari 4,73 persen pada tahun 2023. ’’Selain job fair skala besar, kami juga bakal menggelar mini job fair. Tidak itu saja, untuk menekan pengangguran, kami juga optimalkan pemberdayaan UMKM dan meningkatkan keterampilan masyarakat,’’ jelasnya.
Salah satu yang tengah berjalan, melalui Koperasi Desa (kopdes) Merah Putih. Pembentukan kopdes pada seluruh desa ini membuka kesempatan lebar untuk menyerap tenaga kerja. Dengan sistem pinjaman lunak, kopdes ini bakal disuntik modal dari pemerintah hingga Rp 5 miliar. ’’Kopdes ini harapan kita ke depan mampu memutus mata rantai kemiskinan. Termasuk memutus mata rantai bank titil dan pinjaman online,’’ papar Gus Barra.
Sebab disadari atau tidak, selama ini, lanjut Gus Barra, kemiskinan di Kabupaten Mojokerto sesuai analisanya salah satunya diakibatkan pinjol. Karena seperti yang ia tahu, kebanyakan masyarakat mampu membayar bunganya saja, tetapi pokoknya belum mampu. ’’Kami berharap dengan adanya koperasi desa bisa memutus mata rantai bank titil. Terus lagi pinjol. Harapan kami ke depan juga bisa menyerap lapangan pekerjaan,’’ pungkasnya.
Kepala Disnaker Kabupaten Mojokerto Mohammad Taufiqurrohman mengaku optimistis penurunan TPT akan terus bisa dilakukan seiring dengan masuknya investasi di Mojokerto. Sehingga selanjutnya, pihaknya bakal melakukan optimalisasi kerja sama dengan perusahaan-perusahaan. Sehingga kebutuhan tenaga kerja yang terserap itu sesuai dengan bidang keahliannya. ’’Nah salah satunya, kolaborasi ini kita bangun melalui job fair ini. Termasuk kami berupaya meningkatkan keterampilan masyarakat agar bisa mandiri,’’ ungkapnya. (ori/fen)
Editor : Hendra Junaedi