KOTA - Meski sudah menghabiskan anggaran miliaran, namun proyek pembangunan pasar rakyat di Kota Mojokerto belum memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD).
Baik Pasar Rakyat Prapanca dan Pasar Rakyat Ketidur hingga kini kondisinya masih sepi dan banyak lapak yang masih kosong. Sementara itu, kalangan DPRD Kota Mojokerto menyangsikan area perdagangan bersumber APBN itu bisa direvitalisasi.
Kepala Diskopukmperindag Kota Mojokerto Ani Wijaya mengungkapkan, sedianya kedua pasar rakyat tersebut telah dibuka pendaftaran bagi masyarakat yang berminat untuk berdagang. Utamanya bagi los atau kios yang masih lowong. ’’Asal ada yang kosong, pengajuan ke kami atau kepala UPT pasar bisa langsung jualan,’’ ungkapnya.
Menurutnya, pengajuan pedagang akan disetujui setelah melalui tahap verifikasi. Karena calon pengisi los maupun kios harus memenuhi sejumlah persyaratan. ’’Warga kota prioritas memang kalau yang pasar tradisional Ketidur. Di Prapanca juga boleh siapa saja, asal memenuhi ketentuan,’’ sebutnya.
Namun, sejauh ini pedagang masih belum dibebankan retribusi. Karena pihaknya baru akan memberlakukannya pada tahun ini. Penerapannya akan mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) Kota Mojokerto Nomor 7 Tahun 2023 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. ’’Ya, Insya Allah start Juni,’’ ungkapnya.
Meski telah diresmikan beberapa tahun lalu, dua pasar tradisional tersebut belum mampu menyumbangkan PAD. Untuk diketahui, Pasar Rakyat Prapanca dibangun sejak 2020 dan disusul Pasar Rakyat Ketidur tahun 2021. Keduanya sama-sama dialokasikan Rp 3 miliar dari dana tugas pembantuan Kemendag.
Sementara itu, DPRD Kota Mojokerto menyangsikan pasar rakyat bisa dihidupkan lagi alias direvitalisasi. Dewan menyarankan agar pusat perdagangan tersebut dilengkapi sarana dan prasarana pendukung untuk menarik minat pengunjung.
Ketua Komisi II DPRD Kota Mojokerto Santoso Bekti Wibowo menyatakan, mendukung langkah Pemkot Mojokerto untuk menghidupkan Pasar Rakyat Ketidur dan Prapanca. Akan tetapi, upaya tersebut harus dilakukan secara matang untuk bisa menggeliatkan aktivitas perdagangan. ’’Kalau sekadar diisi pedagang tidak akan hidup lagi,’’ ungkapnya kemarin.
Karena kalau kunjungan tetap sepi, jelas dia, maka pasar akan kembali mati suri. Karena itu, Santoso menyarankan agar di area pasar diberi fasilitas pendukung agar menambah daya tarik bagi pengunjung. ’’Kalau untuk menghidupkan pasar-pasar yang sepi itu harus disandingkan dengan fasilitas yang lain,’’ urainya.
Santoso menyebut, sarana prasarana penunjang itu dapat disesuaikan dengan yang sedang digemari masyarakat saat ini. Salah satunya dengan fasilitas olahraga. Dengan luasnya area terbuka di pasar rakyat, menurutnya masih sangat memungkinkan untuk ditambahkan arena untuk sepatu roda maupun pushbike.
’’Sudah sering saya sampaikan dalam rapat-rapat DPRD dengan eksekutif. Tidak usah banyak-banyak, buat contoh saja entah di Pasar Ketidur atau di Rest Area (Gunung Gedangan),’’ imbuhnya.
Politisi PDIP ini meyakini, dengan adanya fasilitas penunjang tersebut akan mampu mendorong menggeliatkan iklim perdagangan.
Di samping bisa terbentuk klub, pasar juga bisa dijadikan sebagai tempat diselenggarakannya event-event olahraga. ’’Ketika disandingkan dengan fasilitas olahraga, ada juga event di situ, nanti pasti akan ramai,’’ pungkas Santoso yang juga Ketua KONI Kota Mojokerto ini.
Seperti diketahui, kondisi Pasar Rakyat Ketidur dan Prapanca hingga kini masih sepi dari kegiatan perdagangan. Banyak los dan kios dalam keadaan lowong. Pemkot melalui Diskopukmperindag berencana akan kembali menghidupkan kembali dua pasar yang dibangun sejak 2020 dan 2021 dengan total anggaran Rp 6 miliar tersebut. (ram/fen)
Editor : Hendra Junaedi