KOTA - Pembangunan Rest Area Gunung Gedangan dan pasar-pasar baru di Kota Mojokerto diduga minim perencanaan. Proyek pusat perdagangan yang menelan anggaran belasan miliar rupiah itu dinilai asal jadi lantaran hingga kini sepi penghuni.
Kemarin (14/5), sorotan ini disampaikan Pembina Lembaga Pemantau Pembangunan dan Kinerja Pemerintah (LP2KP) Mojokerto Rif’an Hanum. Menurut dia, perencanaan kebanyakan proyek prestisius dan strategis di Kota Mojokerto mentah.
Dia mencontohkan Rest Area Gunung Gedangan yang berdiri di jalan raya bypass. Dibangun dengan konsep tempat kuliner dengan area luas, proyek yang menelan anggaran Rp 7,5 miliar dari DAK dan APBD 2019 dan 2020 itu justru sepi.
Rif’an menyebut lokasi bangunan yang jauh dari keramaian warga kota menjadi penyebabnya. Di sisi lain, pengguna di jalan trans nasional itu kebanyakan hanya lewat tanpa transit. ”Terus gunanya ada pengawas, perencana itu apa? Masak ketika mau membangun tidak diuji, disurvei dulu,” ucapnya.
Kondisi demikian sama halnya dengan sejumlah pasar baru yang dibangun kurun lima tahun terakhir. Seperti, lanjut dia, Pasar Rakyat Ketidur di Kelurahan Surodinawan yang kebanyakan losnya kosong. Pasar baru ini dibangun tahun 2021 dengan dana Rp 3 miliar dari bantuan Kemendag. Lebih miris lagi, kondisi Pasar Rakyat Prapanca di Kelurahan Mentikan. Pasar yang dulunya terkenal sebagai pusat barang loak itu jadi mati suri setelah dirombak.
Sementara, Pasar Tematik Ketidur yang dibangun khusus untuk pedagang loak juga bernasib sama sepinya. Walhasil dua-duanya kini terkesan muspro. ”Jadi yang sudah ada diubah, lalu bikin baru lagi, tapi sama-sama tak termanfaatkan,” lontarnya. Pasar Prapanca yang dibangun tahun 2020 menghabiskan Rp 3 miliar dari bantuan Kemendag. Sedangkan proyek Pasar Tematik Ketidur menelan dana Rp 3,4 miliar dari APBD 2022.
Menanggapi sorotan ini, Kepala Diskopukmperindag Kota Mojokerto Ani Wijaya menyatakan, pemkot sudah melakukan berbagai upaya untuk meramaikan tempat-tempat yang sepi. Di rest area, misalnya, saat ini, sedang proses kerja sama untuk layanan Samsat.
”Di sana ada terminal transit Trans Jatim, pos keberangkatan dan makan wisata keliling kota, ada 20 seniman yang aktif (di pasar seni rest area), 8 pedagang mamin, dan 2 pedagang cinderamata,” bebernya.
Sedangkan di Pasar Rakyat dan Tematik Ketidur, upaya menarik kunjungan juga digencarkan dengan menggelar pasar murah, pasar takjil, hingga senam aerobik. Selain itu, Pasar Ketidur juga disiapkan jadi pasar pengendali inflasi yang diyakini bakal diminati.
”Insya Allah nanti jadi pasar yang komoditasnya paling murah, sehingga pasti dikunjungi warga,” tandas Ani. Adapun khusus untuk Pasar Prapanca kini tengah dikaji menjadi penyokong program makan bergizi gratis (MBG), serta dipertimbangkan untuk bisa dijadikan tempat berjualan jajanan pagi dan sore. (adi/ris)
Editor : Hendra Junaedi