Budi Daya Ikan untuk Penuhi Protein Hewani Warga
Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto memiliki terobosan dalam program penanganan kasus stunting. Melalui inovasi gempa genting alias segenggam sampah gawe stunting berhasil meningkatkan gizi masyarakat dengan asupan protein hewani dari hasil budi daya ikan.
RIZAL AMRULLOH, Prajurit Kulon
SIANG itu, petugas Kelurahan/Kecamatan Prajurit Kulon menerima sekantong sampah organik yang dibawa warga. Limbah rumah tangga itu kemudian dibawa menuju lahan sempit persis di sisi pendapa kantor kelurahan.
Bekas tempat parkir kendaraan itu kini disulap menjadi kandang maggot. Hampir tiga tahun terakhir, Kelurahan Prajurit Kulon mengembangkan budi daya larva dari lalat jenis black soldier fly (BSF). ”Sampah organik ini menjadi makanan utama dari maggot,” tutur Lurah Prajurit Kulon Muhamad Nurhadi.
Menurutnya, setiap warga yang mengurus administrasi di kantor kelurahan diwajibkan untuk membawa segenggam sampah organik. Baik sisa buah-buahan, sayuran, hingga makanan. Dengan begitu, maggot bisa terus dikembangbiakkan. Dan, larva yang kaya protein itu dimanfaatkan sebagai pakan ikan yang dibudi daya dalam kolam. ”Awalnya hanya ikan lele saja, tapi saat ini sudah kami kembangkan dengan membudi daya ikan nila, bawal, hingga patin,” paparnya.
Total terdapat empat kolam bioflok dan kolam taman yang dimanfaatkan untuk budi daya ikan. Setiap kolam berisi sekitar 500-600 ekor ikan yang hasilnya disalurkan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. ”Utamanya, kepada keluarga dengan balita stunting,” jelas Nurhadi.
Setiap keluarga penerima manfaat mendapatkan 1 kilogram (kg) ikan yang disalurkan rutin sebulan sekali. Dengan bantuan bahan pangan yang kaya protein hewani tersebut diharapkan efektif untuk memenuhi kebutuhan gizi balita stunting. ”Itu pun tidak ikan saja, kami juga tambahkan sayuran dan telur dari para donatur,” urainya.
Nurhadi menyatakan, program gempa genting cukup ampuh dalam menekan angka stunting. Tercatat, dari 13 kasus di tahun 2022 berhasil turun drastis hingga 7 kasus di 2024 ini. Bahkan, Kelurahan Prajurit Kulon menargetkan terus menurunkan angka kasus gangguan pertumbuhan yang dikenal dengan tengkes ini di sisa triwulan IV tahun ini. ”Insya Allah tiga bulan ke depan akan turun tiga kasus lagi,” tandas dia.
Karena efektif mengentaskan stunting, maka program gempa genting kini diperluas hingga ke lingkungan masyarakat. Setidaknya, sudah ada 10 titik yang diberi bantuan sarana prasarana untuk budi daya maggot. Mulai dari kandang, kotak perkembangbiakan, jaring, hingga bibit BSF.
Dengan diperluasnya program gempa genting tersebut, Nurhadi berharap pemenuhan gizi masyarakat akan lebih masif dilakukan. ”Karena maggot tidak hanya untuk pakan ikan, tapi juga bisa dibuat untuk unggas. Harapannya, bisa untuk dikonsumsi masyarakat maupun peningkatan ekonomi keluarga,” pungkas dia. (ris)
Editor : Hendra Junaedi