Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mojokerto berkomitmen meningkatkan sistem pengelolaan sampah.
Guna mewujudkan pengurangan produksi sampah mulai dari tingkat rumah tangga, DLH menggandeng peran serta masyarakat dengan mengoptimalkan kinerja bank sampah.
KEPALA DLH Kota Mojokerto Amin Wachid menuturkan, peningkatan pengelolaan bank sampah menjadi salah satu arahan dari Penjabat (Pj) Wali Kota Mojokerto Moh. Ali Kuncoro.
Karena itu, DLH terus berikhtiar dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dari pengelola bank sampah yang tersebar di rukun wilayah (RW) se-Kota Mojokerto.
Salah satunya dengan menggelar kegiatan workshop pengelolaan bank sampah yang digelar pada 10-11 Juni, di Bess Resort and Waterpark, Kabupaten Malang.
Selama dua hari, sebanyak 42 pengelola bank sampah unit serta pengurus bank sampah induk (BSI) mendapat pembekalan dari narasumber.
”Harapannya, melalui workshop ini bisa menambah ilmu dan pengetahuan bagi para pengelola bank sampah unit maupun bank sampah induk, agar bisa meningkat lagi,” tandas Amin.
Salah satu narasumber yang dihadirkan dalam workshop tersebut adalah dari Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Provinsi Jatim. Amin menuturkan, para peserta mendapat bekal materi tentang manajemen pengelolaan bank sampah yang disampaikan secara interaktif.
”Jadi, banyak diskusi dan tanya jawab untuk menambah pengetahuan tentang pengelolaan bank sampah yang lebih baik lagi,” ulasnya.
Selain pembekalan, agenda tersebut juga sebagai bentuk apresiasi dan motivasi. Sebab, para peserta yang berksempatan mengikuti workshop merupakan pengelola bank sampah yang mendapat nilai tertinggi. Baik dari sisi keaktifan maupun jumlah pengelolaan.
Dalam forum tersebut, para peserta juga mendapatkan materi yang disampaikan dari Bidang Kebersihan DLH Kota Mojokerto, tentang aplikasi SIMBA alias sistem informasi bank sampah, yang diinisasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Amin berharap, melalui workshop bank sampah itu bisa meningkatkan pengelolaan. Tidak hanya pada sampah anorganik, tetapi juga mengoptimalkan sampah organik.
”Karena tujuannya memang untuk mengedukasi pengelola bank sampah, supaya menjadi pelopor pengelolaan sampah di wilayah masing-masing,” tutur Amin.
Di samping itu, kegiatan tersebut juga mampu memotivasi bank sampah lain untuk mengaktifkan pengelolaan kembali. Termasuk memperluas edukasi dari BSI ke sekolah dan lingkungan yang membutuhkan pendampingan pembentukan bank sampah baru. (ram/ris)
Editor : Imron Arlado