KABUPATEN, Jawa Pos Radar Mojokerto – Sebanyak 79 pengerjaan proyek fisik untuk infrastruktur keagamaan di Kabupaten Mojokerto menjadi perhatian.
Itu setelah Pemkab Mojokerto mencairkan dana hibah senilai Rp 10,2 miliar ke rekening masing-masing lembaga.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setdakab Mojokerto Nunuk Djatmiko mengungkapkan, penyerapan dana hibah keagamaan tahun anggaran 2024 di lingkungan pemkab menunjukkan progres positif.
Di semester pertama, pemkab sudah merealisasi 50 persen lebih untuk puluhan lembaga. ’’Total pencairan dana hibah untuk infrastruktur keagamaan Rp 10,2 miliar lebih,’’ ungkapnya, kemarin.
Penyerapan anggaran tersebut dinilai sudah sesuai dengan realiasi yang ditargetkan.
’’Tidak ada kendala. Sejauh ini sudah lancar atau maksimal sesuai tahapan 50 persen untuk semester satu dari total Rp 20 miliar,” tambah mantan Camat Dlanggu ini.
Dia menjelaskan, dana hibah yang dicairkan menyentuh 79 lembaga keagamaan. Meliputi, masjid, gereja, musala, hingga taman pendidikan Alquran (TPQ).
’’Agar cepat selesai, dan asas manfaatnya segera dirasakan masyarakat,’’ tandasnya.
Nunuk mengungkapkan, tahun ini kucurkan anggaran hibah bagi infrastruktur keagamaan mencapai Rp 20 miliar dan menyasar 181 lembaga.
Tertinggi, diberikan untuk 53 masjid, 49 musala, 38 TPQ, 20 pesantren, 10 yayasan, 7 lembaga madin, Baznas dan gereja.
Sementara nilai pencairan tertinggi mencapai Rp 800 juta diterima Yayasan Darusa Saadah, Kecamatan Gedeg.
Disusul Pondok Pesantren Roudlotul Hidayah, di Kecamatan Trowulan Rp 495 juta. Berikutnya, TPQ Ar Ridho Rp 367 juta dan TPQ Baitul Mustofa Rp 350 juta, di Kecamatan Dawarblandong.
Kucuran dana hibah tersebut, lanjut Nunuk, sebagai komitmen pemkab mendukung kegiatan umat beragama yang tersebar di 18 kecamatan.
Sedangkan penggunaan dananya bervariatif. Di antaranya, dimanfaatkan untuk membangun atau perbaikan tempat ibadah. Baik dalam kondisi rusak ringan atau berat. ’’Disesuaikan besaran hibah yang disalurkan,’’ tandasnya. (ori/ris)
Editor : Imron Arlado