KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Razia angkutan barang yang digelar sebulan sekali tak cukup membuat pengemudi truk jera menerabas jam larangan masuk Kota Mojokerto.
Selain membahayakan pengguna jalan, lalu lalang kendaraan bertonase besar yang terjadi sampai hari ini ditengai turut memicu kerusakan jalan dan trotoar.
Rambu larangan truk roda enam ke atas melintas pada pukul 06.00-18.00 terpasang di berbagai penjuru kota. Seperti ujung utara Jembatan Gajah Mada, Jalan Empunala, hingga Jalan Brawijaya. Namun, peringatan itu seolah hanya dianggap pajangan.
Setiap hari, ribuan truk melintas di setiap jalur pintu masuk kota tersebut. Hal dapat dibuktikan dari pendataan oleh Dishub Kota Mojokerto pada 2021 silam, yang menunjukkan sedikitnya 700 truk melanggar jam larangan hanya di satu ruas jalan, yakni Jalan RA. Kartini.
Leluasanya truk masuk kota memicu keresahan berbagai kalangan. Pengguna jalan, khususnya roda dua, khawatir karena kerap berpapasan dengan truk-truk besar di jalan kota.
’’Banyak debu terus bikin macet, takut juga kalau senggolan bisa kecelakaan,’’ kata Bagus, salah seorang pemotor di Jalan Gajah Mada, kemarin.
Selain berdampak ke pengguna jalan, angkutan barang bertonase besar itu juga menyebabkan kerusakan jalan. Bagaimana tidak? Kategori jalan protokol di Kota Mojokerto termasuk kelas III, artinya hanya untuk kendaraan maksimal roda empat. Keberadaan truk roda enam ke atas, termasuk tanpa muatan, praktis praktis tak cocok dengan spesifikasi jalan.
Seperti kerusakan pada sejumlah titik di trotoar Jalan Pahlawan dan Jalan Gajah Mada yang diduga karena aktivitas bongkar muat truk di toko dan pabrik.
’’Sebagian besar kerusakan yang ditemukan ada di depan pabrik atau toko. Ya mungkin karena sering dilewati kendaraan besar, sehingga paving block tak mampu menahan beban tinggi,’’ Kabid Bina Marga DPUPR Perakim Kota Mojokerto Firman Syah, Sabtu (1/6).
Kepala Dinas Perhubungan Kota Mojokerto Endri Agus Subianto mengakui masih maraknya truk yang melanggar jam larangan. Dia pun tak memungkiri penindakan yang dilakukan secara gabungan bersama Polri dan TNI setiap satu bulan sekali tak membuat para pengemudi angkutan barang jera.
’’Sebenarnya teman-teman sudah bekerja maksimal, namun kenyatannya seperti itu. Kita tidak bisa berdiri sendiri, nanti kami akan bergabung dengan teman-teman yang lain untuk kami tertibkan,’’ tandasnya, kemarin. (adi/fen)
Editor : Imron Arlado