SEMENTARA itu, warga Kota Mojokerto harus benar-benar mengantisipasi peningkatan potensi kebakaran lahan di puncak musim kemarau ini. Pasalnya, dalam dua hari terakhir, call center 112 Kota Mojokerto menerima laporan tiga insiden amukan si jago merah di tengah kota.
Pertama, kebakaran lahan terjadi pada Sabtu (12/9) sekitar pukul 17.55 WIB. Kobaran api melalap semak ilalang di lahan kosong kawasan Perumahan Pulorejo Green Modern, Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon. Kemudian, pada Minggu (13/9) sekitar pukul 11.05 WIB, api berkobar melalap lahan kosong di Lingkungan Kedungsari, Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari.
Sekitar tiga jam kemudian, pukul 14.42 WIB kebakaran lahan kembali terjadi di Lingkungan Kedungsari, Kelurahan Gunung Gedangan dengan titik berbeda. Total lahan kosong berikut semak ilalang seluas 808 meter persegi terbakar. Tidak ada korban dalam rentetan kejadian tersebut. Sementara pemicu kebakaran masih diselidiki pihak berwenang.
”Cuaca saat ini yang terik disertai embusan angin kencang membuat kebakaran cepat merambat dan meluas. Sehingga potensi kebakaran di puncak musim kemarau ini juga meningkat,” ungkap Kalaksa BPBD Kota Mojokerto Ganesh P. Khresnawan, Minggu (14/9).
BPBD mengimbau agar warga tidak memantik api di area terbuka maupun membakar sampah sembarangan. Termasuk membuang putung rokok sembarangan.
Sebab, kebakaran lahan kering di tengah kota bisa merembet ke kawasan permukiman terdekat dan mengancam keselamatan warga. ”Kami terus ingatkan dan sosialisasi pada masyarakat agar selalu berhati-hati dan mewaspadai potensi kebakaran. Terutama saat membakar sampah,” tandas Ganesh. (vad/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto