Berawal dari Suara Desis Gas SPPG, lalu Disusul Dentuman dan Kobaran Api

Moch. Chariris • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 04:12 WIB
DISELIDIKI: Polisi memasang police line di depan pintu gerbang SPPG Medali 1, Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto yang meledak dan ambruk, Kamis (13/8) malam.
DISELIDIKI: Polisi memasang police line di depan pintu gerbang SPPG Medali 1, Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto yang meledak dan ambruk, Kamis (13/8) malam.

MOJOKERTO - Ledakan tabung gas hingga memicu kobaran api dan ambruknya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Medali 1, Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto menyita perhatian warga.

Usai mendengar suara dentuman dan kobaran api membumbung di sisi kiri bangunan SPPG, warga langsung mendatangi lokasi.

Selain penasaran dan ingin melihat dari jarak dekat sumber ledakan, mereka juga turut membantu proses evakuasi korban luka-luka.

“Waktu itu warga hanya mendengar suara ledakan dari SPPG. Makanya, mereka langsung mendatangi lokasi,” ungkap Kepala Desa Medali Miftahuddin, Kamis (13/8) malam.

Ledakan bersumber dari tabung gas dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut mengakibatkan lima orang terluka.

Masing-masing dialami tiga teknisi gas, dan dua relawan SPPG. 

“Setelah ledakan terjadi warga dan relawan membantu membawa korban luka-luka ke rumah sakit,” imbuhnya.

Dari data sementara, tiga orang teknisi gas turut menjadi korban ledakan tersebut adalah Edi, Nando, dan Quidan.

Mereka sudah dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Gatoel Mojokerto dan Rumah Sakit Islam (RSI) Sakinah Mojokerto akibat mengalami luka bakar serius. 

Edi bahkan dikabarkan menderita luka bakar di tubuh hingga 90 persen. Sedangkan Nando dan Quidan antara 60-70 persen. 

Luka bakar dialami tiga korban ini tak lain akibat ledakan tabung gas yang diduga mengalami kebocoran dan sambaran api.

Sedangkan korban lainnya menimpa dua relawan SPPG. Nikmah dan Tia terluka setelah tubuhnya tertimpa konstruksi bangunan SPPG yang ambruk.

Oleh warga, relawan, dan petugas PMI, kelima korban dilarikan ke RSI Mojokerto dan RS Gatoel Mojokerto.

“Sudah, para korban sudah dibawa ke rumah sakit,” tambah Miftahuddin.

Dari keterangan saksi di lokasi, peristiwa tersebut bermula saat Edy bersama dua pekerjanya, Nando dan Quidan, sedang melakukan perbaikan dan pengisian gas.

Namun, di tengah proses pengisian, para relawan SPPG yang tengah menyiapkan bahan baku menu hotdog mendengar suara desis kebocoran gas.

Tak lama berselang ledakan keras pun terjadi. Dentuman disertai kobaran api ini mengakibatkan atap bangunan SPPG ambruk.

Dua relawan terluka setelah tertimpa reruntuhan atap. Sedangkan Edi dan dua pekerjanya mengalami luka bakar serius terdampak ledakan gas dan tersambar api.

Kendati dalam kondisi terluka, kelima korban, termasuk relawan SPPG lainnya berhasil menyelamatkan diri.

Meski begitu, kobaran api terus membesar hingga terlihat dari sisi luar bangunan. 

Api baru berhasil dipadamkan setelah beberapa unit mobil Damkar dari Kabupaten dan Kota Mojokerto diterjunkan ke lokasi.

Di sisi lain, atap bangunan yang ambruk juga menimpa mobil SPPG yang terparkir.

Aqda Marselino, relawan SPPG Medali 1 menceritakan, memang semula tiga teknisi gas tersebut sedang melakukan perbaikan gas setelah sebelumnya diduga mengalami kebocoran. 

“Waktu itu benerin gas, tapi nggak tahu ya persisnya, tiba-tiba blem (meledak) gitu,” ungkapnya.

Sementara itu, hingga Kamis (13/8) malam, polisi masih melakukan penyelidikan.

Selain melokalisir lokasi SPPG dan menggali keterangan saksi, petugas juga memasang garis polisi di depan pintu gerbang SPPG. (ris)

 

Editor : Moch. Chariris
BGN Mbg SPPG