KOTA - Musim kemarau berdampak terhadap meningkatnya jumlah kebakaran lahan di wilayah Kota Mojokerto. Kondisi tersebut dipengaruhi cuaca panas dan angin kencang.
Kepala BPBD Kota Mojokerto Ganesh Pressiatantra Khresnawan mengatakan, memasuki puncak kemarau saat ini, kewaspadaan terhadap kebakaran ditingkatkan. Khususnya kebakaran lahan yang belakangan kerap terjadi. ’’Potensi kebakaran lahan yang meningkat kami antisipasi dengan menggalakkan imbauan dan sosialisasi,’’ ujarnya, kemarin (5/8).
Sejumlah insiden kebakaran lahan paling banyak melanda semak belukar dan rumput kering di tanah kosong. Menurutnya, tak sedikit kejadian bermula dari aktivitas pembakaran sampah yang kemudian meluas hingga akhirnya terjadi kebakaran. ’’Kami memberi imbauan supaya kalau membakar sampah dan lainnya tidak ditinggal,’’ imbuhnya.
Ganesh menyebut, cuaca panas membuat potensi kebakaran mengalami peningkatan. Hal ini ditambah dengan kondisi angin kencang yang memicu kobaran api dengan cepat meluas. ’’Sosialisasi kami berikan kepada semua elemen masyarakat untuk menekan potensi kebakaran lahan. Jika memungkinkan dipadamkan sendiri, kalau tidak segera panggil damkar,’’ tandasnya.
Terpisah, Komandan Regu Damkar Kota Mojokerto Suyitno mengatakan, sejumlah kebakaran lahan terjadi sepanjang Juli lalu. Antara lain melanda lahan kosong di Lingkungan Suromulang, Kelurahan Surodinawan, Kecamatan Prajurit Kulon pada Senin (27/7) dan lahan alang-alang di Sekar Putih, Kedundung, Magersari, Selasa (21/7).
Selain itu, pada Kamis (16/7), kebakaran lahan terjadi di dua titik bantaran Sungai Brantas, yakni bawah Jembatan Pulorejo, Jalan Brawijaya, dan di tepi Jalan Hayam Wuruk. ’’Semua kejadian tidak ada korban jiwa, hanya saja berisiko merambat ke permukiman jika tidak segera dipadamkan,’’ tutur Suyitno. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto