BMKG Juanda memprakirakan, Mojokerto dibayangi cuaca ekstrem kurun 30 November 30 November hingga 9 Desember mendatang. "Potensi cuaca ekstrem di Mojokerto ini dapat mengakibatkan bencana hidrometeorologi," ujar Ketua Tim Meteorologi BMKG Juanda Andrie Wijaya, kepada Jawa Pos Radar Mojokerto, kemarin (7/12).
Potensi bencana yang turut menyertai kondisi ini meluputi, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang maupun puting beliung. Andrie menyebutkan, ada berbagai faktor yang memengaruhi potensi cuaca ekstrem ini. Selain memasuki puncak musim hujan, juga adanya fenomena gelombang atmosfer low, Kelvin dan Rossby, hingga atmosfer lokal yang labil dan lembap.
"Sehingga bisa memicu pertimbuhan awan hujan dengan intensitas sedang hingga deras," jelasnya. Periode cuaca ekstrem tersebut, bukan tidak mungkin nantinya bakal lebih panjang. BMKG bakal menyesuaikan perkembangan situasi cuaca terkini.
"Sementara dalam periode 10 hari tersebut diprakiraaan akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak signifikan pada aktivitas masyarakat," imbuh Andrie.
Prakiraan BMKG ini terbukti dari kejadian bencana di wilayah Mojokerto. Salah satunya, cuaca buruk mengakibatkan banjir luapan di Desa Centong, Kecamatan Gondang, Kamis (4/12) lalu. Akibatnya, dua rumah warga rusak berat pasca diterjang derasnya banjir.
Tak pelak, BMKG mengimbau agar masyarakat mewaspadai terjadinya perubahan cuaca mendadak. Utamanya pada wilayah perbukitan dan pegunungan, seperti Pacet, Gondang, Jatirejo dan Trawas yang dinilai rawan terjadi bencana.
"Juga waspadai minimnya jarak pandang bagi pengguna jalan yang berkendara di tengah cuaca ekstrem," tukas Andrie. (vad/ris)
Editor : Fendy Hermansyah