KABUPATEN - Angin kencang melanda wilayah Kabupaten Mojokerto, Selasa (2/9). Hembusan angin mengakibaktan tiga pohon mengalami tumbang. Selain itu, angin turut menyapu satu rumah warga hingga rusak pada bagian atap.
Pertama, pohon bulu di Jalan Trawas-Pacet, Desa Cembor, Kecamatan Pacet, tumbang dihempas angin sekitar pukul 08.00. Pohon berdiameter sekitar 80 cm dan tinggi lebih dari enam meter ini melintang menutup badan jalan. Akibatnya, jalur wisata tersebut sempat lumpuh selama proses evakuasi pohon. ’’Di Cembor, proses evakuasi selesai pukul 09.40. Kita dibantu TNI, Polri, Perhutani, warga dan relawan,’’ terang Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Abdul Khakim.
Di waktu yang hampir bersamaan, sekitar pukul 08.00, pohon glodokan di tepi Jalan Raya Desa/Kecamatan Pacet, roboh. Batang pohon berdiameter sekitar 60 cm dan tinggi sekitar 5 meter ini tumbang ke arah bahu jalan. Pohon peneduh ini rampung dievakuasi petugas gabungan sekitar pukul 10.10. ’’Tidak sampai menutup jalan. Tapi, menimpa jaringan kabel PJU, listrik dan internet sampai terputus,’’ jelasnya.
Tak sampai di situ, angin kencang turut menghempas rumah sekaligus bengkel motor milik Nur Syamsiah di Dusun/Desa Purworejo, Kecamatan Pungging. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 10.30 ini membuat atap kanopi tersingkap. Area terdampak angin kencang sekitar 10x6 meter persegi.
Kemudian, pohon sukun di tepi Jalan Dusun/Desa/Kecamatan Trowulan turut tumbang disapu angin sekitar pukul 13.30. Batang pohon berdiameter 20 cm dan panjang lebih dari lima meter ini sempat menutup badan jalan di sekitar SMKN 1 Trowulan. ’’Dari sekian kejadian angin kencang ini tidak sampai menimbulkan korban jiwa,’’ ungkap Khakim.
Menurutnya, kuatnya hembusan angin disebabkan faktor cuaca ekstrem saat memasuki masa puncak musim kemarau. BPBD mengimbau agar warga Kabupaten Mojokerto selalu waspada saat beraktivitas di tengah cuaca ekstrem. Itu karena anomali cuaca berpotensi memicu bencana hidrometeorologi. ’’Angin kencang seperti ini bisa dikategorikan puting beliung. Di puncak musim kemarau seperti ini intensitasnya bisa meningkat dibanding saat musim hujan,’’ tandasnya. (vad/fen)
Editor : Hendra Junaedi