GONDANG - Longsornya tebing bibir Sungai Pikatan yang mengancam rumah warga Dusun/Desa Pohjejer, Kecamatan Gondang menjadi perhatian pihak terkait. Untuk meminimalisir risiko, Pemerintah Desa (Pemdes) Pohjejer meminta warga agar meninggalkan rumah mereka yang terdampak.
”Yang paling terdampak ada dua rumah. Kami sudah minta mereka supaya pindah sementara di rumah keluarganya yang lebih aman. Karena kondisinya sudah membahayakan,” ujar Kepala Desa Pohjejer Tri Palira Alviansyah, kemarin (1/2).
Menurutnya, dua rumah milik bapak dan anak tersebut di antara enam rumah warga yang terancam ambrol. Akibat tebing bibir Sungai Pikatan setinggi 20 meter longsor beberapa waktu lalu. Jarak antara bibir sungai dengan rumah warga kini semakin dekat karena terus-menerus mengalami erosi. ”Jaraknya tinggal satu meter. Selain tembok retak, kondisi kamar mandinya sudah menggantung,” ungkapnya.
Dampak longsornya bibir sungai ini, lanjut Tri, menjadi atensi Pemdes Pohjejer. Apalagi, sepanjang Sungai Pikatan di Desa Pohjejer terdapat banyak titik yang kritis. Di antaranya, bangunan chcek dam di Dusun Tlagan yang banyak mengalami kerusakan.
”Kondisinya sudah lubang-lubang, rusak semua. Dan itu bisa membuat jembatan ambrol. Tapi, bagaimanapun juga kami tidak bisa menangani karena aliran Sungai Pikatan wewenang BBWS Brantas,” tandas Tri. Untuk menentukan langkah lanjutan, Pemdes Pohjejer segera menginventarisir titik kritis Sungai Pikatan. Terutama yang mengancam permukiman warga. ”Setelah ini kita rapatkan dengan warga dan perangkat desa, mana saja yang terdampak. Baru setelah itu kita ambil upaya selanjutnya,” tandasnya.
Erosi ini semakin parah ketika rumpun bambu di belakang rumah warga ambrol pada Selasa (21/1) malam. Hujan lebat yang membuat debit air meningkat jadi faktor utama tebing bibir Sungai Pikatan setinggi 20 meter tersebut longsor. Akibatnya, enam rumah warga di tepian sungai turut terancam ambrol. Tembok dua rumah di antaranya bahkan mengalami keretakan. (vad/ris)
Editor : Hendra Junaedi