Warga langsung mengantre sejak pikap yang memuat elpiji bersubsidi di-drop di pangkalan yang berada di SPBU 54.613.15 sekitar pukul 10.00. Hanya dalam tempo sepuluh menit, sebanyak 50 tabung gas 3 kg lagsung ludes.
Said, warga asal Dusun Brongkol, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri mengaku sudah menunggu kedatangan gas elpiji sejak pukul 8.30. "Sudah keliling cari kemana-mana nggak ada, kosong," ujarnya.
Setelah 1,5 jam, akhirnya pedagang eceran ini baru bisa mendapatkan elpiji. Itu pun, dengan jumlah pembelian dibatasi karena dibagi dengan pembeli lainnya yang juga tengah mengantre. "Sampai sekarang baru dapat 3 biji," ujarnya.
Sementara itu, terbatasnya suplai gas melon mengakibatkan pembeli yang lain harus gigit jari.
Salah satunya dialami Mariyam, warga Dusun Jetis, Desa Banjaragung ini terpaksa harus kembali membawa pulang tabung-tabung elpiji 3 kg yang kosong dengan sepeda anginnya.
"Bawa tiga tabung, tapi gak tau uman (tidak pernah kebagian)," keluhnya.
Menurutnya, dia kesulitan mencari elpiji 3 kg dalam dua pekan terakhir. Sedianya, Mariyam memiliki 9 tabung di toko kelontong miliknya, namun seluruhnya kini juga dalam kondisi kosong.
"Mudah-mudahan bisa normal kembali seperti biasa," ulasnya.
Setelah ludes, petugas kembali menutup pangkalan dan memasang keterangan elpiji 3 kg kosong.
Akibatnya, tampak beberapa warga yang datang ke SPBU untuk sambil membawa gas melon kosong terpaksa harus balik kucing. "Dapat 50 (tabung elpiji 3 kg) langsung habis," ujar petugas pangkalan. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah