Survey lokasi tanah longsor itu berlangsung selama dua hari, 11-12 September. Hasilnya, tim FPRB Kabupaten Mojokerto yang terdiri dari unsur relawan menemukan adanya area longsoran di area hutan sekitar Kutukan, Sendi. ”Titiknya ada di dalam hutan. Jauh dari rumah warga,” kata Made Zakaria, anggota Welirang Community Rescue, kemarin (15/9).
Made menceritakan, berdasarkan pengamatan di lokasi, kejadian longsor terindikasi masih baru terjadi. Material longsoran berupa bongkahan batu-batu besar dan pohon bambu menutup aliran sungai. Menurutnya, area longsor berupa tebing itu memanjang sekitar lima mater.
Titik longsor, lanjut dia, berjarak sekitar 10 kilometer dari permukiman terakhir warga. Material longsor mengarah ke Dusun Mrasih, Desa Kemiri, Kecamatan Pacet. Hal itu berdasarkan alur aliran sungai dan kontur tanah. ”Meskipun jauh dari permukiman, tapi tetap perlu diwaspadai,” tandasnya.
Hasil survey titik kerawan longsor itu telah dilaporkan ke BPBD Kabupaten Mojokerto. Dia berharap potensi bencana longsor dapat dimitigasi sedini mungkin sebelum musim penghujan tiba. Kendati longsor terjadi di area hutan dan tak menimbulkan korban, kejadian ini patut diwaspadai dan menjadi alarm.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto Djoko Supangkat menyatakan, survey lokasi lokasi longsor di kawasan hutan Sendi merupakan bagian dari upaya pemetaan titik rawan longsor. Dari hasil pemetaan tersebut, selanjutnya dapat dilakukan langkah-langkah mitigasi. Seperti reboisasi hingga penguatan tanggul untuk mencegah terjadinya longsoran.
”Itu kegiatannya bidang pencegahan dan kesiapsiagaan. Saat ini, kegiatan tersebut masih berlangsung,” terangnya. Upaya mitigasi dinilainya penting mengingat beberapa peristiwa longsor terjadi selama musim penghujan lalu. (adi/ron)
Editor : Fendy Hermansyah