RADARMOJOKERTO – Tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) oleh pemerintah sejak 16 Desember 1959.
Hal tersebut tak lepas dari sosok Ki Hajar Dewantara yang memperjuangkan pendidikan masyarakat pribumi di era kolonial Belanda.
Besarnya peran Bapak Pendidikan Nasional ini membuat tanggal lahirnya dijadikan salah satu hari bersejarah nasional.
Ki Hajar Dewantara merupakan pelopor sekaligus sosok penting dalam dunia pendidikan Indonesia.
Pemilik nama asli Raden Mas Soewardi Soernyaningrat ini merupakan pendiri organisasi pendidikan pertama di Indonesia, Taman Siswa. Sekaligus pencetus semboyan Tut Wuri Handayani.
Semboyan ini punya arti penting. Jika di uraikan secara lengkap berbunyi, Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Artinya, di depan memberikan contoh yang baik, di tengah dapat memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan.
”Menurut saya ini adalah salah satu semboyan yang sangat bermakna untuk memberikan pengertian bahwa guru bisa juga dijadikan sebagai teman untuk memberikan semangat bagi siswa,”ujar Neni Wahidah, 35, Guru SMKN 1 Trowulan, Kamis (2/5).
Tak hanya itu, lambang Tut Wuri Handayani juga bermakna dalam. Pertama, warna biru muda dan bentuk segi lima yang dapat menggambarkan alam kehidupan Pancasila.
Kemudian, belencong menyala bermotif garuda. Belencong merupakan lampu yang digunakan dalam pertunjukan wayang kulit agar pertunjukan makin hidup.
Sedangkan burung garuda memiliki arti dinamika gagah perkasa serta mandiri dan buku yang menggambarkan sumber dari berbagai ilmu.
”Oleh karena itu lambang dari Tut Wuri Handayani ini banyak digunakan sebagai desain seragam sekolah dari semua jenjang dan kalangan,” ujarnya.
Untuk memperingati Hardiknas ini para siswa biasanya akan memakai pakaian adat atau baju batik.
Dengan tujuan, menumbuhkan dan memberikan kesan cinta pada adat istiadat yang ada di Indonesia bagi para siswa.
”Selain itu, murid-murid akan mengenal berbagai macam adat yang ada di Indonesia dan lebih menghargainya. Serta dapat meningkatkan rasa cinta akan pendidikan karena tidak setiap anak beruntung mendapatkan pendidikan yang layak,” pungkasnya. (annisa fadilah)
Editor : Martda Vadetya