KEBIJAKAN Direktorat SMK terbaru memaksa sekolah lebih agresif menjalin kemitraan industri. Isu inilah yang dibedah tuntas dalam upgrading mutu sesi 2 Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Kabupaten Mojokerto dengan tema Optimalisasi Penyaluran dan Sertifikasi Kompetensi Berbasis Kebutuhan Dunia Kerja, di Cordoba Ballroom, lantai 2 Mutia Exhibition Center, SMK Mutia Ngoro, Selasa (6/10) lalu.
Forum ini sengaja digelar untuk menjawab keresahan guru vokasi di tengah perubahan regulasi yang cepat. Dunia kerja sudah berubah, maka cara sekolah mengelola kompetensi dan penyaluran lulusan juga harus berubah.
Ketua FGM Kabupaten Mojokerto Ednan Rudianto menegaskan, forum ini bukan sekadar ajang kumpul. Pola undangan kepala sekolah dan guru sengaja diterapkan agar kebijakan tidak berhenti di forum, namun juga diteruskan sampai ke kelas. ”Guru Muhammadiyah harus berhenti nyaman di zona aman. Kalau FGM hanya jadi silaturahmi tanpa perubahan nyata di sekolah, kita sedang mengkhianati jargon Islam Berkemajuan itu sendiri,” tegas Ednan.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jatim Wilayah Kabupaten dan Kota Mojokerto Pinky Hidayati menekankan, bahwa peran cabdindik sebagai mitra, bukan pengawas. Di mana, mutu vokasi tidak akan naik jika sekolah dan dinas jalan sendiri-sendiri. ’’Kami di cabdindik siap jadi mitra strategis. Tata kelola SMK hari ini harus berbasis data, bukan perasaan,” ujar Pinky.
Dia menegaskan, agar jumlah lulusan yang terserap setiap tahun hingga sertifikasi yang diakui oleh industri harus terukur. ’’Muhammadiyah punya modal besar berupa jaringan, ini harus jadi keunggulan untuk memperkuat kemitraan industri,” imbuhnya.
Puncak pembahasan disampaikan Ketua Tim Kerja Peserta Didik Direktorat SMK Kemendikdasmen RI Adrianus Patiung. Ia membongkar arah kebijakan terbaru direktorat yang menuntut sekolah lebih agresif. ”Keresahan guru soal lulusan yang belum terserap itu valid. Jawabannya adalah sertifikasi yang diakui dunia kerja, bukan sertifikat internal yang hanya jadi pajangan,” tandas Adrianus.
Dia menambahkan, kebijakan terbaru menuntut penyaluran lulusan yang terukur dan tertelusuri. Praktis, kegiatan ini menjadi alarm bahwa upgrading mutu guru adalah sebuah keharusan. Tanpa pembaruan kompetensi guru yang berkelanjutan, lulusan SMK Muhammadiyah akan terus kalah bersaing di dunia kerja. ”Link and match bukan lagi slogan tahunan, tapi kewajiban yang ada angkanya dan ada kemitraan industrinya,” pungkasnya. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto