Diduga Keracunan MBG Sate Ayam, Belasan Siswa SMPN 1 Mojoanyar Dilarikan ke IGD

Indah Oceananda • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 06:59 WIB
PENANGANAN: Petugas medis membawa siswa SMPN 1 Mojoanyar yang diduga menjadi korban keracunan MBG ke dalam ruang perawatan Puskesmas Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Rabu (7/10). (Sofan Kurniawan/JPRM)
PENANGANAN: Petugas medis membawa siswa SMPN 1 Mojoanyar yang diduga menjadi korban keracunan MBG ke dalam ruang perawatan Puskesmas Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Rabu (7/10). (Sofan Kurniawan/JPRM)

 - Rata-rata Alami Mual, Muntah, dan Diare 

- Siswa Sebut Menu Sate Ayam Terasa Pahit 

KABUPATEN – Belasan siswa SMPN 1 Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto dilaporkan mengalami mual, muntah, dan diare usai menyantap menu sate ayam. Rabu (7/10) mereka harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Puskesmas Gayaman, Kecamatan Mojoanyar setelah sebelumnya diduga mengonsumsi menu sate ayam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jabon, Kecamatan Mojoanyar. 

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Mojokerto (JPRM) menyebutkan, dari total sasaran sekitar 1.500 siswa dalam pengiriman MBG secara bersamaan di SMPN 1 dan SMPN 2 Mojoanyar, sebanyak 15 pelajar mengalami gejala mual, muntah, dan diare dan harus dirawat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). 

Hingga kemarin dua siswa masih dirawat di Puskesmas Gayaman untuk menjalani perawatan medis. Sementara 13 lainnya sudah dipulangkan setelah kondisinya berangsur membaik. Secara keseluruhan, jumlah sasaran penerima manfaat SPPG Jabon, Kecamatan Mojoanyar sebagai dapur penyuplai MBG mencapai 2.919 siswa. 

Noviana, siswi kelas IX SMPN 1 Mojoanyar mengaku dirinya mulai mengalami mual, muntah, dan diare sejak Selasa (6/10) malam. Setelah sehari sebelumnya ia mengonsumsi menu MBG berupa sate ayam. ”Rasanya mual, muntah sama diare sejak malam Selasa  (6/10). Makan MBG sate ayam Selasa (6/10). Baru terasa malam, sekarang masih terasa tidak enak perutnya,” ujar Noviana. 

Menurutnya, menu makanan MBG tersebut disantap sekitar pukul 13.30 WIB. Ia juga merasakan sesuatu yang berbeda dari rasa ayam yang dikonsumsinya. ”Rasa ayamnya ada rasa pahit,” katanya. Keluhan serupa turut diungkapkan Chacha Kirana, siswi kelas IX SMPN 1 Mojoanyar. Chacha mengaku mulai merasakan perut mulas dan diare pada Selasa (6/10) malam. ”Tadi pagi (kemarin, Red) mules, cuma memang sempat makan cireng di kantin tadi (kemarin, Red) pagi. Kalau mual, muntah sama diare sejak malam Selasa (6/10),” jelasnya. 

DARURAT: Petugas membantu menangani siswa korban keracunan di ruang kelas SMPN 1 Mojoanyar, Rabu (7/10). (Sofan Kurniawan/JPRM)
DARURAT: Petugas membantu menangani siswa korban keracunan di ruang kelas SMPN 1 Mojoanyar, Rabu (7/10). (Sofan Kurniawan/JPRM) 

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto menyatakan, menu MBG yang didistribusikan pada pukul 10.50 WIB dan dikonsumsi sekitar pukul 13.00 WIB itu terdiri dari ayam, bumbu kacang, dan acar. Sehingga dinkes mengeklaim dari segi produksi dan distribusi waktu tersebut terbilang masih aman. 

Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati mengungkapkan, dugaan keracunan tersebut masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Dari total sekitar 1.500 penerima manfaat, keluhan kesehatan dilaporkan ke dinkes dialami 27 anak, dan 15 di antaranya sempat dilarikan ke puskesmas. 

”Ini dugaan masih butuh bukti apakah itu benar atau tidak. Penerima manfaat ada 1.500. Tadi (kemarin, Red) yang ada keluhan 27 dalam kondisi baik sudah pulang, terus yang 15 tadi sempat dibawa ke puskesmas,” jelas Dyan. Dari 15 pelajar yang dibawa ke puskesmas tersebut, dua di antaranya masih menjalani perawatan. Sisanya diketahui telah membaik. 

Dyan menegaskan, pihaknya masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab munculnya gejala tersebut. Di samping itu, kemungkinan lain juga perlu dipertimbangkan. Semisal apakah siswa alergi terhadap makanan. ”Penerima manfaat ada 1.500. Karena yang terkena adalah 15 anak, ini perlu penelusuran lebih jauh. Bisa jadi yang 27 beban psikologis, maka perlu dibuktikan secara ilmiah. Bisa jadi yang bersangkutan alergi makanan. Karena dari 1.500 itu yang bergejala hanya 15 anak. Ini perlu penelusuran lebih jauh,” urainya. 

Adapun gejala yang dilaporkan tersebut meliputi mual, muntah, dan buang air besar (BAB). Dyan menambahkan, sampel muntahan dan sisa makanan sudah diambil untuk dilakukan uji laboratorium. Test kit juga sudah dilakukan sesuai arahan dari Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN). Dengan demikian, pihaknya masih membutuhkan waktu untuk melakukan penelusuran bersama BGN dan Dinas Pendidikan (dispendik). ”Kami mohon waktu untuk penelusuran lebih lanjut,” tukasnya. (oce/ris)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
siswa mojokerto siswa SMPN 1 Mojoanyar keracunan mbg