Kota Mojokerto Belum Memiliki SLB Negeri

Indah Oceananda • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 09:36 WIB
PENDIDIKAN INKLUSI: Kegiatan belajar mengajar di salah satu SLB swasta Kota Mojokerto. Hingga tahun ini, tercatat belum satupun  SLB negeri yang berdiri di Kota Mojokerto. (Indah/JPRM)
PENDIDIKAN INKLUSI: Kegiatan belajar mengajar di salah satu SLB swasta Kota Mojokerto. Hingga tahun ini, tercatat belum satu pun SLB negeri yang berdiri di Kota Mojokerto. (Indah/JPRM)

Dindik Jatim Kebut Status Penegerian Sekolah 

KOTA - Di tengah upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) memperkuat layanan pendidikan inklusi, Kota Mojokerto tercatat sebagai satu dari lima wilayah yang belum memiliki Sekolah Luar Biasa (SLB) negeri. Karena itu, Pemprov Jatim kini turut mengebut program penegerian untuk menutup kekosongan tersebut. 

Kabid Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK) Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim Mudianto mengatakan, saat ini wilayah Jatim baru memiliki sekitar 147 SLB negeri dan 1.500 SLB swasta yang tersebar di 38 kabupaten/kota. 

Namun, dari jumlah tersebut Kota Mojokerto masih mengandalkan SLB swasta. ’’Karena satu-satunya SLB negeri yang ada, SLBN Seduri, secara administratif berada di wilayah Kabupaten Mojokerto,’’ ungkapnya, Selasa (22/9). 

Kondisi ini lantas mendorong Pemprov Jatim untuk menginisiasi pengalihan status SLB swasta menjadi SLB negeri melalui kerja sama dengan yayasan pengelola. Saat ini, baru terdapat lima SLB yang dalam proses pengerjaan pembangunan. 

Satu di antara pembangunan yang sudah tuntas adalah SLB Karya Mulia Surabaya. ”Kita mengupayakan menjadi SLB negeri agar beban yang selama ini ditanggung yayasan bisa dialihkan ke pemerintah. Dengan begitu, pendidikan bagi siswa menjadi gratis, fasilitas bertambah, dan kualitas layanan meningkat,” imbuh Mudianto. 

Di sisi lain, ia membenarkan jika Kota Mojokerto belum memiliki SLB negeri akibat terkendala lahan. Sebab, proses penegerian menunggu pengajuan dari lembaga atau yayasan yang bersedia. ’’Lahan juga memiliki aturan tersendiri. Karena pembangunan SLB memiliki regulasi ukuran lahan untuk pembangunan gedung yang lebih luas,” jelasnya. 

Meski demikian, pihaknya memastikan tetap mengupayakan penambahan SLB negeri di setiap daerah di Jatim, termasuk di Kota Mojokerto. Ia menegaskan, SLB masih membutuhkan perhatian serius karena pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada penguatan kompetensi dan keterampilan hidup. ”Pendidikan khusus ini kita siapkan agar anak-anak punya bekal keterampilan hidup. Ini bagian dari pendidikan inklusi yang terus kita perkuat,” imbuhnya. 

Di sejumlah SLB, siswa telah dibekali dengan berbagai jurusan keterampilan. Seperti tata boga, kecantikan, tata busana, hingga keterampilan vokasional lainnya yang disesuaikan dengan potensi masing-masing peserta didik. 

Terkait penerapan pendidikan inklusi di sekolah umum, Mudianto menyebutkan, tetap diberikan porsi sesuai regulasi. Namun, ia mengingatkan agar tidak memaksakan anak disabilitas bersekolah di sekolah umum akibat keterbatasan guru dan fasilitas yang belum memadai. ”Kalau dipaksakan kasihan anak-anaknya. Guru inklusif kita masih terbatas. Meski di SLB swasta, fasilitas dan kompetensinya jauh lebih lengkap,” pungkasnya. (oce/ris)

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
SLB kota mojokerto SLB Negeri Kota Mojokerto