PERSATUAN Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Mojokerto resmi me-launching program PGRI Power di Gedung PGRI Kabupaten Mojokerto, kemarin (14/9). Kegiatan ini dihadiri 135 peserta yang terdiri dari pengurus PGRI kecamatan, IGTKI, dan cabang se-Kabupaten Mojokerto. Launching mengusung tema Menggerakkan Guru, Mentransformasi Pendidikan dan menjadi bagian dari program nasional 1 Juta Guru Mahir Coding dan Artificial Intelligence (AI).
Ketua PGRI Kabupaten Mojokerto Suwadi menegaskan, PGRI Power lahir sebagai jawaban atas perkembangan teknologi di dunia pendidikan. Guru dituntut tidak hanya mengajar, tetapi juga menguasai teknologi.
”Kita menyadari perkembangan teknologi membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Sebagai guru tidak boleh hanya menonton, PGRI Power hadir sebagai program peningkatan guru khususnya dalam penguasaan coding dan AI,” ujarnya.
Suwadi menargetkan Kabupaten Mojokerto memiliki 5.000 guru yang mahir coding dan AI melalui program ini. Ia berharap pelatihan tidak berhenti di tingkat kabupaten, tetapi bisa menyebar hingga ke sekolah-sekolah. ”Kita berharap kegiatan ini tidak hanya hadir di sini, tapi di sekolah-sekolah hingga pembelajaran di kelas,” tegasnya.
PGRI Power yang baru saja diluncurkan menjadi bukti PGRI Kabupaten Mojokerto siap mentransformasikan digital ke sekolah. ”Mudah-mudahan dengan bersamaan kolaborasi yang indah dapat mewujudkan sinergi yang keberlanjutan demi pendidikan yang lebih baik,” tambahnya.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto Amsar Azhari Siregar turut mengapresiasi peluncuran program tersebut. Ia menekankan peran guru tetap menjadi kunci utama meski teknologi terus berkembang.
”Saya berharap guru-guru tidak hanya power mengajar tapi juga dalam menghadapi perubahan-perubahan. Peran guru saat ini semakin penting, meskipun teknologi sudah memberikan jawaban tapi guru yang menanamkan karakter, empati dan keteladanan. Jadi kami yakin, guru tidak bisa digantikan dengan AI,” katanya.
Amsar juga mendorong agar program 1 Juta Guru Mahir Coding dan Artificial Intelligence (AI) tidak hanya bersifat seremonial. Namun, juga harus bergerak di ruang-ruang kelas. ”Kita harus belajar bersama, paling tidak guru kita memahami teknologi, bisa merancang pembelajaran dan membuat kreativitas lebih berkembang. Transformasi pendidikan dimulai dari guru, niscaya sekolah akan bergerak dan menciptakan anak-anak yang lebih maju,” pungkasnya. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto