SEBANYAK delapan peserta mengikuti pelatihan ini. Terdiri dari kepala sekolah jenjang SMPN yang belum memiliki Sertifikat Calon Kepala Sekolah (CKS). Kegiatan tersebut bukan sekadar untuk memenuhi syarat administratif, melainkan membekali peserta dengan kompetensi manajerial, kepemimpinan, serta kemampuan menyusun strategi peningkatan mutu pendidikan di sekolah masing-masing.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto Amzar Ashari Siregar menegaskan, bahwa kepala sekolah memegang posisi sangat strategis dalam menentukan arah dan kualitas pendidikan.
”Pelatihan BCKS ini kami harapkan tidak berhenti pada urusan sertifikasi. Lebih dari itu, peserta harus benar-benar siap menjadi pemimpin pembelajaran yang membawa perubahan positif. Kepala sekolah harus mampu membangun budaya kerja yang baik, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didik,” terangnya.
Peningkatan kapasitas kepala sekolah dinilai sebagai investasi penting. Gaya kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh langsung terhadap kinerja guru, tata kelola sekolah, hingga terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Karena itu, para peserta didorong mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara sungguh-sungguh.
Tantangan setelah pelatihan bukan sekadar memperoleh sertifikat, melainkan mewujudkan ilmu yang didapat ke dalam praktik nyata di sekolah. ”Para bakal calon kepala sekolah ini diharapkan menjadi pemimpin yang adaptif, terbuka terhadap inovasi, mampu membangun kerja sama dengan warga sekolah, serta peka terhadap kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, Dispendik berkomitmen terus memperkuat kapasitas pemimpin satuan pendidikan agar dapat melahirkan sekolah-sekolah yang tidak hanya tertib administrasi, tetapi juga memiliki visi, integritas, dan keberanian dalam melakukan pembaruan. ”Langkah ini menjadi fondasi utama menyiapkan generasi Mojokerto yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” tandas Amzar. (bas/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto