ANCAMAN banjir di kawasan Sungai Gembulu, Desa Jabontegal, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto mendorong tim dosen Universitas Islam Majapahit (Unim) mengembangkan teknologi prediksi kerusakan bangunan pengendali banjir.
Penelitian tersebut mengangkat judul Model Prediksi Kerusakan Bangunan Air Terintegrasi Finite Element Method untuk Optimalisasi Early Warning System dan Memperkuat Strategi Mitigasi Banjir.
Penelitian dipimpin Faizatus Sholikhah, ST, MT, dosen Program Studi Teknik Sipil Unim bersama Diah Sarasanty dan Puthut Omar Satriawan dari Politeknik Negeri Banyuwangi. Tim juga melibatkan mahasiswa teknik sipil, Rizal Cahyadi dan Rahendra Maulana.
Kegiatan penelitian didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema Penelitian Dosen Pemula (PDP) 2026. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kejadian kerusakan pada sejumlah bangunan pengendali banjir di Sungai Gembulu.
Beberapa titik dilaporkan mengalami tanggul jebol, turap ambrol, serta gangguan fungsi pintu air yang berdampak pada kawasan permukiman dan persawahan warga. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya sistem pemantauan dan prediksi yang lebih terukur untuk mendukung mitigasi banjir.
”Untuk mendapatkan data teknis, tim melakukan survei lapangan, uji sondir atau cone penetration test (CPT), pengeboran tangan, pengukuran geometri menggunakan total station dan GPS, serta pemetaan menggunakan drone,” kata Ketua Tim Penelitian Faizatus Sholikhah.
Tim juga mengumpulkan data hidrologi dan historis banjir sebagai bahan pendukung pemodelan. Tidak berhenti pada survei lapangan, sampel tanah kemudian diuji di laboratorium mekanika tanah.
”Pengujian meliputi kadar air, berat jenis, konsolidasi, direct shear, triaxial UU dan CU, permeabilitas, proctor, CBR, batas atterberg, hingga analisis saringan. Hasil pengujian tersebut akan menjadi parameter penting dalam pemodelan finite element method (FEM) menggunakan ABAQUS/PLAXIS,” ulasnya.
Hasil awal menunjukkan segmen 4 menjadi titik dengan tingkat kerentanan sangat tinggi. Sementara segmen 1 dan 3 masuk kategori tinggi. ”Temuan ini menjadi dasar penentuan prioritas penanganan dan investigasi teknis lanjutan,” papar dia.
Selanjutnya, tim akan melakukan pemodelan FEM, validasi, penyusunan peta kerentanan berbasis GIS, serta merancang kerangka early warning system (EWS) tiga tingkat berbasis factor of safety.
”Melalui penelitian tersebut, kami berharap teknologi prediksi kerusakan bangunan air dapat menjadi bagian dari penguatan mitigasi bencana hidrometeorologi, sekaligus memberikan dasar teknis bagi pemangku kepentingan dalam menentukan prioritas penanganan infrastruktur pengendali banjir di Kabupaten Mojokerto,” tandasnya.
Penelitian selanjutnya diarahkan pada pemodelan FEM, pemetaan risiko berbasis GIS, serta penyusunan ambang peringatan dini tiga level berbasis factor of safety yang diharapkan dapat mendukung rekomendasi bagi BPBD dan Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto