SEMENTARA itu, upaya meningkatkan literasi pada generasi muda dapat dilakukan melalui berbagai cara. Di antaranya dengan program perpustakaan keliling, penyediaan sarana membaca melalui keberadaan perpustakaan taman, hingga kegiatan mendongeng yang disiarkan di media sosial (medsos).
Cara-cara kreatif itulah yang dijalankan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Mojokerto guna memperkuat kecakapan literasi masyarakat, khususnya pada generasi muda.
Selaras dengan tema Hari Literasi Internasional 2026 Literacy for people, the planet and prosperity, atau literasi untuk manusia, planet, dan kemakmuran yang dicanangkan UNESCO, pendidikan literasi di Kota Mojokerto terus digencarkan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia (SDM).
”Dalam rangka menjalankan literacy for people itu kami punya berbagai kegiatan seperti lomba bertutur yang diikuti anak SD, temanya terkait literasi lokal Majapahitan,” ungkap Kepala Dispusip Kota Mojokerto Abdul Rachman Tuwo, Senin (7/9).
Menurutnya, lomba bertutur menjadi sarana melatih kemampuan anak-anak dalam membaca dan menyampaikan hasil bacaan (story telling). Kegiatan ini berkesinambungan dengan program Dongeng Online Kota Mojokerto (Dolen Komo) dan Kolaborasi Mendongeng Online (Komoline) yang dijalankan secara rutin.
Dalam program Dolen Komo, petugas Dispusip mendongeng menggunakan tangan dan ditayangkan secara live di Instagram dan Facebook. Adapun melalui Komoline, dinas menggandeng siswa sebagai pendongeng boneka tangan.
”Dua program ini jadi ruang untuk mengembangkan bakat dan kreativitas siswa sekaligus meningkatkan gerakan pembudayaan literasi kepada masyarakat dengan cara yang menyenangkan dan mengikuti perkembangan zaman,” jelas Tuwo.
Tak hanya dalam hal membaca dan menulis, upaya pengembangan literasi anak yang dijalankan juga menjangkau kemampuan memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara kritis dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya melalui pelatihan literasi digital.
”Mengenai bagaimana bermedia sosial yang aman, menyaring berita yang baik, dengan peserta kepala sekolah, guru-guru, termasuk petugas perpustakaan,” bebernya.
Di sisi lain, keberadaan perpustakaan sebagai sarana paling dasar untuk masyarakat membaca terus ditingkatkan. Fasilitas publik ini tersebar di kantor dinas, kelurahan, taman se-Kota Mojokerto, dan alun-alun. ”Untuk menarik minat pembaca, kami juga ada program one day one information di media sosial dan perpustakaan keliling yang singgah ke sekolah-sekolah,” ungkapnya.
Tuwo menyatakan, berbagai upaya itu dijalankan guna memenuhi kebutuhan literasi masyarakat, terutama dalam hal minat baca dan tulis. Hasilnya, ia menilai, minat baca dan menulis terus mengalami peningkatan. Data sepanjang kemarin (7/9), misalnya, setiap perpustakaan yang berada di taman dan alun-alun dikunjungi 20 hingga 25 orang per hari.
Sedangkan perpustakaan keliling di SD Muhammadiyah Plus mendapat pengunjung 75 siswa dengan jumlah buku yang dibaca sebanyak 86. ”Pendaftar lomba mendongeng yang selalu bersemangat, juga pengunjung perpustakaan dan pojok baca yang selalu melebihi target, itu menjadi indikator kalau tingkat literasi kita sudah cukup bagus. Sebagai langkah peningkatan dari sisi buku, kami berusaha meng-update koleksi buku yang lebih bagus dan lengkap,” tandasnya. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto