Teknologi semakin canggih, tapi minat baca terbilang masih jauh dari harapan. Kondisi ini menjadi perhatian para siswa di Kabupaten Mojokerto. Pada peringatan Hari Literasi Nasional 2026, mereka menyuarakan harapan agar budaya membaca tetap hidup dan wawasan masyarakat semakin luas.
ALIA Hasna Oktaviana, siswa SMPN 2 Puri mengaku baru memahami makna literasi yang sesungguhnya. Baginya literasi tidak terbatas pada membaca buku di sekolah saja. ”Baru tahu sekarang. Literasi kayak sebuah membaca buku, di rumah baca buku novel atau buku pelajaran. Harapanku di Hari Literasi Nasional ini semakin banyak masyarakat yang wawasannya mendalam dan bisa semangat baca buku terutama untuk kalangan Gen Z,” ujar siswa kelas 9 ini.
Pengalaman berbeda dirasakan Azzahra Delisha Arifiana. Melalui kegiatan memilih buku untuk resensi, ia merasa mendapat banyak hal baru. ”Milih buku buat resensi, baru kali ini. Bisa mengetahui kata-kata baru dari kegiatan ini,” kata siswa kelas 9 SMPN 2 Puri ini. Senada juga disampaikan Desinta Fitri. Ia menyoroti masih banyak teman sebayanya yang malas membaca di tengah gempuran gadget.
”Kebanyakan literasi itu membaca, tapi kebanyakan sekarang malas membaca. Harapannya semakin banyak teman-teman yang baca karena teman-teman kalau diajak ke perpus. Jadi saya harap di tahun-tahun berikutnya meskipun teknologinya canggih tetap banyak orang yang baca buku,” ungkap Desinta.
Ketiganya berharap dalam peringatan Hari Literasi Nasional ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Mereka ingin agar sekolah, keluarga, dan masyarakat terus mendorong generasi muda menjadikan buku sebagai sumber ilmu utama. (oce/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto