Bau Ikan Asin dan Nila Presto Tampak Kering, Siswa dan Guru di Mojokerto Enggan Santap Menu MBG

Indah Oceananda • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:30 WIB
TAK DIMINATI: Ratusan ompreng di MIS An-Nur, Desa Beloh, Kecamatan Trowulan ditumpuk rapi dengan kondisi masih utuh. Siswa dan guru memilih tak menyantap makanan lantaran menu yang disajikan dinilai tak layak konsumsi, Selasa (11/8). (Indah JPRM)
TAK DIMINATI: Ratusan ompreng di MIS An-Nur, Desa Beloh, Kecamatan Trowulan ditumpuk rapi dengan kondisi masih utuh. Siswa dan guru memilih tak menyantap makanan lantaran menu yang disajikan dinilai tak layak konsumsi, Selasa (11/8). (Indah JPRM) 

  Tiga Lembaga Pendidikan Kembalikan ke SPPG 

KABUPATEN - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bumi Majapahit kembali menuai sorotan setelah kondisi makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat dinilai tak layak konsumsi. Lauk berupa ikan nila presto yang tampak tidak fresh membuat para penerima manfaat di Desa Beloh, Kecamatan Trowulan enggan menyantap menu MBG yang dibagikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Beloh, Selasa (11/8) pagi. 

Salah satunya terjadi di MIS An-Nur Beloh. Dari total 137 siswa penerima manfaat, hanya ada enam ompreng yang disantap para siswa. Namun, menu yang terdiri dari nasi putih, sayur sop, perkedel, ikan nila goreng presto, hingga buah salak itu tak dikonsumsi secara menyeluruh. 

Pantauan Jawa Pos Radar Mojokerto di lokasi, enam ompreng yang disantap tersebut menyisakan lauk ikan nila goreng yang tak disentuh oleh para siswa. ”Yang makan tadi (kemarin, Red) hanya siswa kelas 1, 2, dan 5, itu pun ikannya tidak mau dimakan. Sisanya nggak mau, jadi masih banyak yang utuh ini,” kata Sela Desi Eka Lestari, guru kelas 1 MIS An-Nur Beloh. 

Dia menerangkan, MBG tersebut dibagikan pada pukul 07.30 WIB. Para guru sebelumnya sempat menawarkan terlebih dahulu kepada para siswa. ”Jadi kami tawarkan dulu mau makan atau tidak. Kalau tidak ya nggak papa, cuma kalau kami dari guru juga tidak ada yang mau,” jelas dia. 

Kepala MIS An-Nur Beloh Nurodi menambahkan, banyak siswa yang enggan menyantap menu tersebut lantaran tidak sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa siswa bahkan mengeluhkan jika lauk ikan nila tersebut berbau. ”Baunya seperti ikan asin, jadi anak-anak banyak yang nggak mau, dan nanti kita kembalikan ke SPPG,” jelas dia. 

Para siswa dan guru di SDN Beloh turut merasakan hal serupa. Biasanya siswa menyantap menu secara bersamaan pada jam istirahat. Akan tetapi, karena menu dinilai tak layak konsumsi, pihak sekolah akhirnya menyarankan agar menu tersebut dibawa pulang menggunakan tempat makanan yang sudah dibawa dari rumah. ”Kami tidak bilang menolak. Hanya saja, memang untuk menu hari ini banyak siswa yang tidak mau mengonsumsi, sehingga semuanya ditaruh ke tempat makan masing-masing yang sudah dibawa dari rumah,” urai Kepala SDN Beloh Khurin’in. 

Ia sendiri sebelumnya juga sempat menyantap lauk ikan nila tersebut. Namun, ikan tersebut dimasak dalam keadaan tidak segar, sehingga berpengaruh terhadap rasa yang disajikan. ”Jadi dagingnya seperti sudah keras gitu. Saya awalnya mengira juga ikan asin, karena baunya. Menurut saya, menu hari ini (kemarin, Red) tidak ada gizinya,” imbuh dia. 

Di Balai Desa Beloh juga tampak puluhan ompreng tersusun rapi dengan menu yang masih utuh. Tatik, guru KB Kuncup Harapan menyatakan, menu yang dibagikan SPPG tersebut akan dikembalikan karena penerima manfaat enggan menyantap. ”Mau dikembalikan, karena nggak cocok aja sama menunya hari ini (kemarin, Red),” jawabnya singkat. (oce/ris)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
pogram makan bergizi gratis Menu MBG Sppg mojokerto mbg mojokerto